Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Maka pada suatu pagi yang hening
kutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,
sebagaimana benih yang lama tersembunyi
tiba-tiba mengenal musimnya.
Tiada aku menanamnya dengan sengaja,
tiada pula aku memanggilnya untuk menuai.
Namun ia bersemi jua
di antara banyak luka.
Dan sejak saat itu
setiap hari terasa lebih luas,
seraya dunia mengetahui
ada sesuatu yang hidup di dadaku dengan buas.
Pada tepi sungai yang panjang
aku memandang arus yang tiada lelah.
Air mengalir dengan setia
menyentuh batu yang diam.
Demikianlah cintaku, sayang,
tiada riuh, tiada memaksa.
Ia hanya datang berulang-ulang,
dengan kesabaran yang sama.
Dan batu yang lama terdiam itu
perlahan menjadi halus,
oleh sentuhan yang tak pernah jemu.
Tatkala hari berjalan perlahan
dan matahari condong ke barat,
aku duduk di sisimu
tanpa keperluan akan banyak kata.
Waktu mengalir di antara kita
laksana sungai yang tenang.
Tiada yang terburu menuju hilir,
tiada yang menoleh ke hulu.
Pada saat-saat itulah
aku mengetahui satu perkara
cinta kadang hadir
dalam sepi yang saling mengerti.
Telah lama pintu hatiku tertutup
oleh musim yang silih berganti.
Namun engkau datang dengan langkah ringan,
membawa cahaya yang tak memaksa.
Engkau tidak mengetuk dengan gaduh,
tidak pula memohon untuk masuk.
Akan tetapi entah bagaimana
pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan di dalam ruang yang lama sunyi itu
cinta berjalan secara perlahan,
menyusun kembali harapan
yang pernah tercerai-berai oleh kenangan.
Nyanyian bagi Nama yang Dihafal
Pada banyak malam yang tenang
aku menghafal namamu perlahan.
Setiap hurufnya kusimpan
di antara kedip yang setia.
Tiada seorang pun mengetahui
betapa dalam ia berdiam.
Sebab cinta sering memilih sunyi
sebagai tempat tinggalnya.
Namun tiap kali namamu tersebut
dunia terasa lebih dekat
seakan segala yang jauh
datang menghampiri hatiku.
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...