Kelak Apakah Jokowi Tak Berkenan Dikenang Sebagai Penyair?
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
Maka pada suatu pagi yang hening
kutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,
sebagaimana benih yang lama tersembunyi
tiba-tiba mengenal musimnya.
Tiada aku menanamnya dengan sengaja,
tiada pula aku memanggilnya untuk menuai.
Namun ia bersemi jua
di antara banyak luka.
Dan sejak saat itu
setiap hari terasa lebih luas,
seraya dunia mengetahui
ada sesuatu yang hidup di dadaku dengan buas.
Pada tepi sungai yang panjang
aku memandang arus yang tiada lelah.
Air mengalir dengan setia
menyentuh batu yang diam.
Demikianlah cintaku, sayang,
tiada riuh, tiada memaksa.
Ia hanya datang berulang-ulang,
dengan kesabaran yang sama.
Dan batu yang lama terdiam itu
perlahan menjadi halus,
oleh sentuhan yang tak pernah jemu.
Tatkala hari berjalan perlahan
dan matahari condong ke barat,
aku duduk di sisimu
tanpa keperluan akan banyak kata.
Waktu mengalir di antara kita
laksana sungai yang tenang.
Tiada yang terburu menuju hilir,
tiada yang menoleh ke hulu.
Pada saat-saat itulah
aku mengetahui satu perkara
cinta kadang hadir
dalam sepi yang saling mengerti.
Telah lama pintu hatiku tertutup
oleh musim yang silih berganti.
Namun engkau datang dengan langkah ringan,
membawa cahaya yang tak memaksa.
Engkau tidak mengetuk dengan gaduh,
tidak pula memohon untuk masuk.
Akan tetapi entah bagaimana
pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan di dalam ruang yang lama sunyi itu
cinta berjalan secara perlahan,
menyusun kembali harapan
yang pernah tercerai-berai oleh kenangan.
Nyanyian bagi Nama yang Dihafal
Pada banyak malam yang tenang
aku menghafal namamu perlahan.
Setiap hurufnya kusimpan
di antara kedip yang setia.
Tiada seorang pun mengetahui
betapa dalam ia berdiam.
Sebab cinta sering memilih sunyi
sebagai tempat tinggalnya.
Namun tiap kali namamu tersebut
dunia terasa lebih dekat
seakan segala yang jauh
datang menghampiri hatiku.
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
Ketika cara dominasi melalui ototarian telah usang, hegemoni menjadi cara yang paling ampuh untuk menguasai kaum marginal. Apa dominasi, apa hegemoni? Dominasi identik dengan keker...
Selain DKI Jakarta, sebenarnya banyak daerah bersiap menggelar Pilkada serentak, Februari 2017, termasuk Buleleng, Bali, daerah kelahiran saya. Namun perhatian orang di Indonesia i...