Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
Kusamba, kini, sebuah desa yang tentram. Banyak dilintasi kendaraan. Walau demikian deru yang terus berpacu tidak mengusik ketenangan desa ini. Tidak membuat gaduh suasana yang terentang sepanjang desa Kusamba.
Jalan aspal membujur dari barat ke timur. Di kiri kananya, rumah berjajar. Di antaranya, ada Balai Banjar, ada Pura, ada juga kantor Kepala Desa Kusamba. Selain jalan ini, ada dua jalan menuju pantai. Di mana laut selatan membentang luas. Ombaknya menderu berlomba melaju menuju pantai berpasir hitam.
Desa pesisir ini, di zaman Ida I Dewa Agung Istri Kania, merupakan bandar. Bandar dari kerajaan Klungkung. Bandar yang merupakan sumber penambah pundi-pundi Kerajaan Klungkung. Dalam istilah ekonomi, bandar yang menjadi sumber investasi. Tentu investasi Kerajaan Klungkung. Yang penggunaannya diarahkan membangun dan menyejahterakan rakyat.
Sebagai bandar, ke desa ini pasti banyak berdatangan penjual yang menyandarkan kapal barangnya di dermaga. Banyak pula berdatangan para pembeli yang bertolak setelah membayar barang-barang dan hasil bumi. Maka peristiwa bisnis, setiap hari berlangsung. Pembauran pun tidak bisa dihindari. Semula perbauran antar suku bangsa. Tak menutup kemungkinan terjadi pembauran budaya.
Pada masa yang sama, Kusamba juga menjadi tempat berlangsungnya peristiwa heroik. Peristiwa mempertahankan tanah air dari jarahan Belanda yang datang untuk menaklukkan dan menjajah dalam segala bidang. Yang memimpin perjuangan ini Ida I Dewa Agung Istri Kania selaku pucuk Kerajaan Klungkung.
Sebagaimana perang, kecamuknya pasti dahsyat. Dentuman meriam, teriakan dan sorak sorai pasukan, bersatu menjadi gema permusuhan dua seteru. Acungan senjata api, acungan keris dan tombak, desingan peluru, hujaman keras pada badan bergerak dalam laju tak bisa dibendung.
Sebagaimana perang rasa takut tak ada dalam kamus hati yang bertempur. Keberanian untuk menunjukkan diri sebagai kesatria medan laga tumbuh terus di dalam jiwa yang berperang. Kata kalah tak dibiarkan ada. Kata menang ditumbuhkan terus sepanjang kecamuk pertempuran. Dan keyakinan menang terus dijulangkan sebagai api pembakar semangat nan tak kunjung padam.
Sebagaimana perang, pasti ada yang gugur. Dan yang gugur terpejam abadi di pangkuan bumi. Bersimbah darah yang mengalir dari raga yang berlobang dan tumbang.
Walau perang ini tidak lama, tetapi nyaris meruntuhkan moral pasukan Belanda. Karena, dalam perang ini, pimpinan pasukan Belanda, Jendral Michiels mati terbunuh. Menemui ajalnya ditikam keris I Dewa Ketut Agung dalam serangan mendadak yang dilakukan malam hari.
Dua tanda sejarah di atas, bukti yang tak bisa ditolak, Kusamba merupakan wilayah yang dilintasi sejarah. Sejarah sentra sekaligus pusat perekonomian yang membangun denyut nadi kehidupan Kerajaan Klungkung. Juga, sejarah yang berwujud perjuangan bangsa.
Dua tanda sejarah ini, sangat unik. Unik, karena lokasi sejarah yang mengarah pada perekonomian dan perjuangan, khususnya di Bali, tidak ada. Unik, karena, jika dimaknai, dua hal ini bertentangan. Perekonomian mengarah pada tujuan mencari materi, khususnya uang. Hal yang mengacu pada yang berbau idealis tidak ada. Pamrih untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya lebih dikedepankan. Bahkan lebih diutamakan. Resiko, sebisa mungkin dihindari. Peristiwa kedua, hal yang berbau idealis sangat diutamakan. Tanpa ditunjang idealis semangat patriotis akan lembek. Tidak ada pamrih untuk meraih keuntungan berupa materi. Termasuk uang di dalamnya. Tidak menghindar dari resiko. Walau resiko itu, berujung pada kematian. Tak ada rasa takut. Tak ada perasaan gentar untuk maju terus. Untuk pantang mundur, walau setapak.
Sekali lagi, fakta sejarah berkata: Kusamba lokasi unik tempat tergelarnya fenomena histori. Fenomena histori tak bisa disambung menjadi satu kesatuan momentum. Tetapi bisa disatukan, menjadi untuk kesekian kalinya peristiwa sejarah.
Waktu berlalu. Berlalu pula peristiwa itu digeser oleh peristiwa-peristiwa lain. Apakah peristiwa ideologi, politik, budaya, sosial, ataukah peristiwa lain yang akan muncul. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan, adakah di benak generasi milenial dua peristiwa bersejarah itu, yang menjadi tanda sejarah khas Kusamba, tetap terpateri. Ataukah menyelinap ke balik ingatan menjadi satu kata: lupa? Waktu juga yang akan menjawab. [T]
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika sa...
APA yang kalian pikirkan setelah mendengar kata perempuan? Lemah? Cengeng? Orang yang membuat lelaki selalu merasa susah? Penakut? Manja? Atau kalian punya pikiran lain tentang per...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) tentu berkesan bagi semua mahasiswa yang mengikutinya. Bagi mahasiswa dari kampus pendidikan Hindu, seperti Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), tentu juga...
BAPAK Nyoman Serengen (almarhum), seorang guru meditasi dan pendiri Perguruan Tenaga Dalam Bambu Kuning, suatu hari bertutur bahwa YOGA dan UGA berakar dari akar kata yang sama. Ke...
PADA 18 Agustus 2016, saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Mutiara Harapan Islamic School, Tangerang. Seminar ini terasa istimewa bagi saya karena bertepatan den...
BELAKANGAN ada sebuah fenomena baru muncul di Buleleng. Yaitu, munculnya berbagai festival di berbagai tempat. Seperti wabah, seperti virus menular, festival terus muncul sambung-m...
KETIKA dramawan Putu Satria Kusuma dengan penuh semangat melakukan transformasi atau alihwahana novel “Sukreni Gadis Bali” ke dalam bentuk drama gong, saya termasuk orang yang sang...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan mem...
PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahi...