Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud

Wayan Jengki Sunarta
by Wayan Jengki Sunarta — September 03, 2016 in Puisi

Tatkala.co
TELUK BENOA -kepada investor serakah-   jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan cahaya, kepiting, ganggang, ubur-ubur, hiu dan segala penghuni niskala   namun, jika kau paksa mengubur laut daerah istirahku nanti jika kau paksa bikin pulau buatan bersiaplah aku akan terus gentayangan di saku kemejamu, di meja kasinomu, di apartemen, di hotel, di restaurant, di kolam renang, di villa, di segala tetek bengek yang kau puja   puahhh…aku akan terus meniupkan mantra dari jiwa-jiwa nelayan dan pelaut teraniaya dari jiwa-jiwa kaum jelata yang kau tipu dari jiwa-jiwa pasrah ibu bumi aku akan menghisap ubun-ubunmu dari semestaku   maka, dengan mudah pula bagiku menenggelamkan daratan buatanmu sekali hisap hancur pesta poramu musnah serakahmu   hutan-hutan bakau berkerumun dalam jiwaku dan kau hanya sepercik debu yang sekejab sirna disapu waktu   (2015)   AGUSTUS BELUM PUPUS -untuk: penyair wayan arthawa-   agustus belum pupus ketika kau bergegas meninggalkan kata-kata getas di pintu pagi yang cemas   tak ada tanda di pelepah pohon lontar di mana dulu para leluhur menakik namamu mengutuk takdirmu jadi sang kawi   betapa fana tatap mata gadis-gadis jelita taman Tirtagangga betapa jelata ibu-ibu peladang salak ketika kau terharu menyadap sajak hingga duri jadi rindu hingga rindu jadi rinai di setapak jalan Telaga Tista   tak ada tanda mengurai airmata cuaca tiba-tiba buta kata demi kata yang kau tempa menyerpih di keranjang sayur ibu pasar Amlapura   agustus belum pupus aroma tuak mengaliri nadiku subuh makin rapuh dalam mabuk kubaca isyarat itu   hanya kita dan kata yang paham makna kehilangan   (2012)   MALAM MABUK DI UBUD   kuziarahi lagi kau dengan arak ramuan mari bersulang untuk kenang demi kenang dan kekonyolan kita   hujan pun henti dalam kibasan tanganku malam dan lelampu merkuri gemetar di ujung jari   di depan Puri Ubud celoteh berbaur sisa-sisa puisi basah wajah demi wajah membasuh jiwaku (masihkah kau kenang namaku?)   di jalan pulang kulihat Tjokot, si pematung bungkuk itu tertatih memanggul bongkah kayu:   “akan kupahat tubuhmu subuh nanti jika bertemu Lempad, sampaikan salamku belum usai dia gurat garis takdirku…”   aroma arak, lirih gerimis, malam igau wahai, pejalan mabuk di Ubud tak kau temukan dirimu   (2012)   KOTA YANG DIKUTUK PEMABUK   inilah kota yang dikutuk para pemabuk ketika kau menziarahi nisan-nisan puisi yang berlumut di alun-alun tua matamu menyalakan lampu-lampu merkuri papan-papan iklan menyihir malam-malam gilamu   inilah kota di mana tapak kakimu akan lunas di ujung senja penghabisan diterpa bunyi klakson bertubi-tubi dan kau pun sekejap lenyap di tikungan itu tak ada lagi yang mengenali jejakmu   inilah kota ketika suaramu makin sepi di tengah riuh tawar menawar di ruang-ruang kantor pemerintahan tak peduli bayang-bayang linglung kaum jelata makin kusam makin melata makin menggema di aspal-aspal jalan   (2012)   UBUD, HANYA KELUH DAN RIUH   malam makin mabuk seorang turis separuh baya berceloteh tentang Rsi Markandeya dan masa silam yang hanyut di sungai Campuhan   aku menenggak arak sembari membayangkan cahaya kunang-kunang di pematang sawah turis itu terus berkicau tentang Bali dan cukong-cukong pariwisata   di Ubud yang sisa hanya keluh dan riuh   Lempad dan Tjokot telah lama mati gemuruh tarian kecak perlahan sirna ditelan bingar musik kafe dan cukong-cukong pariwisata beramai-ramai memberaki Bali   celoteh turis makin berdengung seperti kerumunan tawon aku pergi menjauh duduk di bawah pohon jepun berteman arak dan sepi bercengkerama dengan diri   di pelataran pura, seorang kakek tua menari sendiri tongkat di tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku   malam makin kelam langit mencurahkan gerimis seperti tirta suci memerciki ubun-ubunku..   (2014)
Tag: Puisi
Avatar

Wayan Jengki Sunarta

Related Posts