Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Kusamba, kini, sebuah desa yang tentram. Banyak dilintasi kendaraan. Walau demikian deru yang terus berpacu tidak mengusik ketenangan desa ini. Tidak membuat gaduh suasana yang terentang sepanjang desa Kusamba.
Jalan aspal membujur dari barat ke timur. Di kiri kananya, rumah berjajar. Di antaranya, ada Balai Banjar, ada Pura, ada juga kantor Kepala Desa Kusamba. Selain jalan ini, ada dua jalan menuju pantai. Di mana laut selatan membentang luas. Ombaknya menderu berlomba melaju menuju pantai berpasir hitam.
Desa pesisir ini, di zaman Ida I Dewa Agung Istri Kania, merupakan bandar. Bandar dari kerajaan Klungkung. Bandar yang merupakan sumber penambah pundi-pundi Kerajaan Klungkung. Dalam istilah ekonomi, bandar yang menjadi sumber investasi. Tentu investasi Kerajaan Klungkung. Yang penggunaannya diarahkan membangun dan menyejahterakan rakyat.
Sebagai bandar, ke desa ini pasti banyak berdatangan penjual yang menyandarkan kapal barangnya di dermaga. Banyak pula berdatangan para pembeli yang bertolak setelah membayar barang-barang dan hasil bumi. Maka peristiwa bisnis, setiap hari berlangsung. Pembauran pun tidak bisa dihindari. Semula perbauran antar suku bangsa. Tak menutup kemungkinan terjadi pembauran budaya.
Pada masa yang sama, Kusamba juga menjadi tempat berlangsungnya peristiwa heroik. Peristiwa mempertahankan tanah air dari jarahan Belanda yang datang untuk menaklukkan dan menjajah dalam segala bidang. Yang memimpin perjuangan ini Ida I Dewa Agung Istri Kania selaku pucuk Kerajaan Klungkung.
Sebagaimana perang, kecamuknya pasti dahsyat. Dentuman meriam, teriakan dan sorak sorai pasukan, bersatu menjadi gema permusuhan dua seteru. Acungan senjata api, acungan keris dan tombak, desingan peluru, hujaman keras pada badan bergerak dalam laju tak bisa dibendung.
Sebagaimana perang rasa takut tak ada dalam kamus hati yang bertempur. Keberanian untuk menunjukkan diri sebagai kesatria medan laga tumbuh terus di dalam jiwa yang berperang. Kata kalah tak dibiarkan ada. Kata menang ditumbuhkan terus sepanjang kecamuk pertempuran. Dan keyakinan menang terus dijulangkan sebagai api pembakar semangat nan tak kunjung padam.
Sebagaimana perang, pasti ada yang gugur. Dan yang gugur terpejam abadi di pangkuan bumi. Bersimbah darah yang mengalir dari raga yang berlobang dan tumbang.
Walau perang ini tidak lama, tetapi nyaris meruntuhkan moral pasukan Belanda. Karena, dalam perang ini, pimpinan pasukan Belanda, Jendral Michiels mati terbunuh. Menemui ajalnya ditikam keris I Dewa Ketut Agung dalam serangan mendadak yang dilakukan malam hari.
Dua tanda sejarah di atas, bukti yang tak bisa ditolak, Kusamba merupakan wilayah yang dilintasi sejarah. Sejarah sentra sekaligus pusat perekonomian yang membangun denyut nadi kehidupan Kerajaan Klungkung. Juga, sejarah yang berwujud perjuangan bangsa.
Dua tanda sejarah ini, sangat unik. Unik, karena lokasi sejarah yang mengarah pada perekonomian dan perjuangan, khususnya di Bali, tidak ada. Unik, karena, jika dimaknai, dua hal ini bertentangan. Perekonomian mengarah pada tujuan mencari materi, khususnya uang. Hal yang mengacu pada yang berbau idealis tidak ada. Pamrih untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya lebih dikedepankan. Bahkan lebih diutamakan. Resiko, sebisa mungkin dihindari. Peristiwa kedua, hal yang berbau idealis sangat diutamakan. Tanpa ditunjang idealis semangat patriotis akan lembek. Tidak ada pamrih untuk meraih keuntungan berupa materi. Termasuk uang di dalamnya. Tidak menghindar dari resiko. Walau resiko itu, berujung pada kematian. Tak ada rasa takut. Tak ada perasaan gentar untuk maju terus. Untuk pantang mundur, walau setapak.
Sekali lagi, fakta sejarah berkata: Kusamba lokasi unik tempat tergelarnya fenomena histori. Fenomena histori tak bisa disambung menjadi satu kesatuan momentum. Tetapi bisa disatukan, menjadi untuk kesekian kalinya peristiwa sejarah.
Waktu berlalu. Berlalu pula peristiwa itu digeser oleh peristiwa-peristiwa lain. Apakah peristiwa ideologi, politik, budaya, sosial, ataukah peristiwa lain yang akan muncul. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan, adakah di benak generasi milenial dua peristiwa bersejarah itu, yang menjadi tanda sejarah khas Kusamba, tetap terpateri. Ataukah menyelinap ke balik ingatan menjadi satu kata: lupa? Waktu juga yang akan menjawab. [T]
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...