Nuryana Asmaudi SA# Lelaki Abstrak, Perempuan di Pediangan, Pewarta Cinta

Nuryana Asmaudi SA
by Nuryana Asmaudi SA — September 10, 2016 in Puisi

Tatkala.co

LELAKI ABSTRAK

  Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halimun anggun burung terbang oleng gulita gurita malam raut leak seringai butakala rumah reot kubah tua sarang laba-laba pohon tumbang ngarai bebukitan bunga mekar bibir ranum kebaya tanggal ranjang bergetar rimbun hijau semak kering daun gugur ranting luruh kafilah garis patah abstraksi hati leleh.   Kau menari di sana menjadi bayangan tak teraba menjadi kata tak terucap menjadi noktah tak terbaca Aku si tuli bisu menyaksikanmu menjadi juru kunci ranah sunyimu: penjaga kebun bercinta dengan pohon perawat taman yang tak sempat menikmati bunga mekar Kupu-kupu dungu kalah berebut madu dengan kumbang liar Pungguk merindukan-dirindukan bulan di taman malam zikir cinta di Snerayuza.  

PEWARTA CINTA

  Dara itu masih terlalu muda dipinang cinta darimana segala bermula mula tak berakhir hulu tak berhilir tapi titah telah tertatah sekar terlanjur mekar di taman takdir tersurat cerita dalam lontar   kepada bumi yang membesarkan ia berkata: kesabaranku belum sampai pada-Nya! bumi yang sedang berduka berfatwa: “Kerelaan membuka jalan cinta yang menganugerahi keutamaan cinta yang memberimu firman. Butakan matamu tulikan telingamu pada segala yang bikin sakit karena di sana maut numpang lewat Langit memberkati. Ibu merestui!”   karma baik tak berakhir pada jalan buruk cinta memilih permaisuri anak asuh bumi bumi yang tersakiti berabad menanti para khalifah penuntun jalan fitrah syuhada yang menyediakan dirinya jadi tumbal penyelamat kehidupan   Kau yang dijanjikan waktu tanyakan kepada cinta yang mempermaisurimu: titah apa hendak difirman?   Dara penggema gentakala pewarta cinta sulukkanlah kasih di bumi lara. Sebelum pergi singgah dulu di rumah rindu peziarah kalbu berbincang dengan waktu membuka gerbang siang menguak rahasia malam malam berbunga-bunga Malam Yang Cinta    

 LELAKI PEMIMPI

  Kenangan kanak-kanak itu hadir kembali dalam mimpinya: “Angin nakal, Bu ia renggut layanganku dibawa ke barat tapi besok kami akan bermain layangan lagi,” ia dengar temannya mengadu pada ibunya   Bocah miskin-nelangsa yang sering kalah berebut mainan tak bisa membuat layangan tak mampu membeli benang tapi ingin bermain layangan seperti temannya yang lain. Ia cari daun gadung diterbangkan dengan serat batang pisang “Lihat Mak, layanganku bisa terbang!” pekiknya girang. Emak tersedusedan melihat layangan daun gadung anak lanang terbang sempoyongan.   Kenangan kanak itu datang lagi dalam mimpi semalam bayangan suram masa silam si lanang lajang serupa suratan hidupnya yang gagal sekarang hingga subuh membangunkannya dengan azan   Subuh tak sampai hati membiarkan lelaki pemimpi itu mati terbunuh mimpinya sendiri.    

PERAWAT IKAN

  Perawat ikan itu meninggalkan perusahaan yang tak menghargai karyawan. Ikan-ikan mogok makan karena kangen. Akuarium besar tempat tinggal induk ikan pecah ditubruk kucing bunting ngidam lohan.   Perawat ikan membaca tulisan di koran: “Ribuan ikan hias mogok makan karena ditinggal  pergi perawatnya. Pemilik perusahaan ikan hias  (juragan kikir yang sombong) frustasi lalu gantung diri di kebun kemangi.   “Ini pasti bukan kabar burung, tapi kabar ikan Bukan pula mimpi, tapi cerita ilusi seorang lelaki sepi yang mendambakan istri.” Perawat ikan yang telah kembali ke azal sunyi terkekeh-kekeh: “Sayang aku telah bersuami sayang aku telah dipermaisuri puisi!”    

PEREMPUAN DI PEDIANGAN

  perempuan di pediangan itu mungkin api yang menjaga bara agar tetap nyala sebab hawa begitu dingin setelah ditinggal adam   sewaktu-waktu ia pasti bosan menyala menyembunyikan sisa bara atau benar-benar mati menjadi abu dipermainkan angin atau ditelan hujan hingga kau kehilangan kehangatan dan bara jiwa   tak ada lagi cahaya tak ada lagi bara cinta dan kau menggigil dalam kegelapan diterkam dingin dicekik sunyi diri yang tak lagi kau kenali    

KEPADA MARIA

  Kita telah memulai sejak lama Maria dan cinta tak pernah berakhir. Di negeri jahiliyah jasad kita akan dijagal Darah bercucuran. Menjelma domba Menjadi biri-biri gembala Bergolong-golong. Bermarga-marga Domba-domba sahaya di bukit cahaya Biri-biri bestari di lembah sunyi Yang tak gentar melawan lapar Tak takut direnggut maut.   Roh kita mi’raj ke langit. Ke mihrab jiwa Bergandengan-bermesraan sepanjang jalan Serupa laron kehilangan sayap beriringan ke lobang persemayaman menyatu dengan tanah Hingga masa kebangkitan menjadi laron lagi atau menjelma makhluk lain. Menjalani hidup baru di taman-taman hati.   Cinta adalah bunga Ilahi, Maria Tak layu dirayu waktu. Tak gugur di liang kubur Maka rekah-rekahkan cinta. Mendawamkan zikir dan nyanyian Kudus dengan kekhusukan iman dan ketabahan hati sebelum tiba saat jasad kita dijagal para algojo jahiliyah.   Kita telah mengawali segala dengan cinta Dan takkan pernah mengakhirinya Sebab cinta hidup selamanya.  
Tag: Puisi
Avatar

Nuryana Asmaudi SA

Related Posts