‘[…] Namaku
dikenal di seluruh dusun itu, dan nama dia ialah Ranjana. Jalan yang berkelok
ke rumah mereka mewangi di musim semi dengan bunga-bunga pohon mangga. Jika
benih rami mereka telah masak untuk dituai ganja pun berbunga di ladang kami
[…]’
Ganja Di Mata Rabindranath
Tagore
‘Ganja pun berbunga di ladang kami’. Seorang mahaguru,
penyair, pelukis, peraih Nobel kesusastraan, Rabindranath Tagore menceritakan
kisah tentang ladang yang ditanami benih rami dan ganja. Rami [Boehmeria
nivea (L.)]
adalah tumbuhan yang bisa digunakan sebagai bahan baku tekstil. Rami juga nama
lain dari tumbuhan sejenis ganja. Sedangkan ganja adalah tumbuhan yang bisa
dibuat jadi rokok untuk dihisap. Tanaman ini resmi dicatat dengan nama ilmiah Cannabis
sativa
oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753. Konon orang yang menghisapnya akan
mengalami euphoria.
Tim Lingkar Ganja Nusantara [2019] mencatat dalam Hikayat Pohon Ganja bahwa tanaman ini terdiri dari tiga spesies yakni sativa [dinamai oleh Carolus Linnaeus, 1753], indica [dinamai oleh Jean-Baptiste Lamarck, 1758], dan ruderalis [dinamai oleh Dmitry Janischevsky]. Ketiga spesies ini merupakan genus Cannabis. Di antara ketiga jenis itu, Cannabis sativa yang paling luas persebarannya. Meskipun demikian, spesies ganja sesungguhnya masih diperdebatkan antara monotypic atau polytypic. Jenis ganja manakah yang dikenal oleh Tagore?
Pada
salah satu bagian dari sajak Tukang Kebun [nomor 17] di atas, Tagore tanpa
ragu-ragu menyebut tanaman ganja yang berbunga di sebuah ladang di dusun
Khanjana. Sajak nomor 17 ini bercerita tentang segala milik ‘mereka’ dan milik
‘kami’. Contoh milik ‘mereka’ adalah pohon rami, sedangkan milik ‘kami’ adalah
ganja. Contoh lainya, milik ‘mereka’ adalah domba, sedangkan milik ‘kami’
adalah pohon-pohon. Antara ‘mereka’ dan ‘kami’ dalam pandangan Rabindranath
Tagore, hanya dipisahkan sebidang padang. Padang dalam hal ini mungkin sabana. Bayangkan
saja ada dua ladang yang dipisah padang, meski begitu kedua ladang masih bisa saling
bertukar sesuatu. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Apakah pohon rami
dan bunga ganja bisa saling dipertukarkan di lingkungan hidup Rabindranath
Tagore? Siapakah ‘mereka’ dan ‘kami’ dalam sajak itu? Untuk menjawab pertanyaan
ini, kita mesti memahami pikiran Rabindranath Tagore dari berbagai sudut.
IBM
Dharma Palguna [2002] menyebut ‘dunia’ dan watak karya-karya Tagore dibentuk
oleh jiwa Upanisad. Hal itu dilatarbelakangi oleh ajaran ayahnya [Maharsi Devendranath]
yang mengajarkan semangat Upanisad dan mengajak Tagore kecil mengembara
memasuki hutan-hutan di pegunungan Himalaya. Menurut Palguna, suatu terra incognita telah terjadi pada diri
Tagore pada usia dini. Jika melihat bagaimana karya-karya Tagore diapresiasi
oleh para pemujanya yang dengan tidak kebetulan berkenalan dengan
karya-karyanya, terra incognita yang
terjadi pada Tagore justru menjadi mare
incognitum pada diri pembacanya. Artinya, daratan yang tak dikenal Tagore,
menenggelamkan pembacanya pada lautan yang tak dikenal pula. Semangat ajaran
Upanisad yang diajarkan oleh sang ayah, boleh jadi berupa semangat filsafat. Ada
banyak manusia di penjuru negeri ini yang paham, kalau filsafat adalah moyang
dari pengetahuan. Itu karena filsafat lahir dari otak yang tidak malas
berpikir. Dengan berpikir dan berfilsafat, orang sedang mengoptimalkan sebagian
kecil dari kemampuan otak yang dimilikinya. Ganja yang disebutkan Tagore dalam
Tukang Kebun, bisa disebut hasil berpikir ala filsafat selain memang Tagore
sangat mungkin melihat sendiri pemandangan itu. Melihat dulu lalu berfilsafat,
demikian cara kerjanya. Karena dunia Rabindrath Tagore dibentuk oleh jiwa
Upanisad, mari kita lihat salah satu bait dari Isa Upanisad sebagi berikut.
iśāvāsyam
idaṃ sarvaṃ,
yat
kiñca jagat yāṃ jagat,
tena
tyaktena bhuñjīthā,
mā
gṛdhaḥ kasya svid dhanam [IU.I]
Bait
itu diterjemahkan oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada [1972] seorang Founder Acharya International Society untuk Krishna Consciousness menjadi: Everything animate or inanimate that
is within the universe is controlled and owned by the Lord. One should
therefore accept only those things necessary for himself, which are set aside
as his quota, and one must not accept other things, knowing well to Whom they
belong [1972: 14].
Segala sesuatu yang bergerak atau tidak
bergerak di dunia, dikendalikan dan dimiliki oleh Tuhan. Demikian disebutkan
dalam mantra pertama Isa Upanisad. Isa
[Tuhan] yang mengendalikan [vasyam]
segalanya [sarvam]. Dengan berpandangan
bahwa Rabindranath Tagore dipengaruhi secara mendalam oleh Upanisad, mantra
pertama Isa Upanisad tersebut bisa dijadikan salah satu gerbang untuk masuk ke
dalam dunianya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bagi Tagore dunia ini
dikendalikan oleh Tuhan, termasuk di dalamnya tumbuhan ganja dan rami. Ini
sebuah kenyataan yang bisa didapat dengan membaca karya Tagore, dan hal-hal
yang melatarbelakangi kelahiran karya-karya itu. Tagore dengan sadar
menggunakan ganja sebagai bagian dari sajaknya. Artinya Tagore mengatakan bahwa
ganja, yang dikendalikan oleh Tuhan itu, dijadikan miliknya. Kenapa? Mungkin
karena Tagore paham ‘iśāvāsyam’,
Tuhan mengendalikan segalanya. Termasuk di dalamnya adalah tanaman rami, ganja,
padang, dan dirinya. Meski seluruh semesta ini dikendalikan oleh Tuhan, seseorang
mesti menerima dan memilih sesuatu yang diperlukannya [dhanam]. Tagore memilih rami dan ganja, karena diperlukan oleh
dirinya untuk karyanya.
Ganja: Kemabukan, Kesehatan, Kebebasan
Di
Indonesia, ganja ilegal. Penanaman ganja tanpa hak menanam jelas dilarang.
Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1
Tahun 1980 Tentang Ketentuan Penanaman Papaver,
Koka, dan Ganja[1].
Tapi, pada bagian Bab III pasal 6, disebutkan “Kecuali untuk
tujuan Ilmu Pengetahuan, Lembaga dilarang menggunakan atau memelihara tanaman
Papaver, Koka dan Ganja”. Maksudnya, penggunaan atau
pemeliharaan ganja dilarang kecuali untuk Ilmu Pengetahuan.
Di dalam
pikiran Rabindranath Tagore, ganja adalah hasil kerja. Setelah bekerja di
ladang ganja, hasilnya berupa tumbuhan ganja yang sudah berbunga. Sayangnya,
Tagore tidak menjelaskan dengan detail digunakan untuk apa seladang ganja itu. Pastinya,
Tagore mengatakan bahwa bunga ganja itu adalah hasil kerja. I Wayan Westa [2002]
saat menyebut Tagore sebagai Fajar Dari Timur menerangkan keyakinan Tagore pada kerja
sebagai wujud cinta pada kehidupan. Menurut Westa, kerja proses kreatif bagi
Tagore menjadi jalan pembebasan untuk bersatu dengan kemahaindahan. Dengan
mengutip sajak Tukang Kebun berbunyi: Ingin kupuja kau dengan
kerja. Telah kulihat wajahmu lembut, dan aku cinta pada debumu pilu, Ibu Bumi, Westa menegaskan sekali lagi tentang kerja
berarti lebih dari mencintai Ibu Bumi, tapi kerja adalah pemujaan, yakni
‘memujanya dengan semangat seorang hamba’. Kerja adalah pemujaan, pekerja adalah
seorang pemuja. Hasil dari pemujaan sebagai hamba untuk menyatu dengan
kemahaindahan salah satunya adalah ganja. Setidaknya, demikian yang bisa
disimpulkan dari sajak Tagore dan pernyataan Westa.
Pramoedya
Ananta Toer dalam satu wawancara mengutip pernyataan ibunya tentang kerja,
‘semua orang yang bekerja adalah mulia, yang tidak bekerja itu tidak punya
kemuliaan’ [Pramoedya Ananta Toer – Ikon 1992]. Hal itu dikatakan karena Pram
merasa malu saat bertemu dengan anak-anak seusianya yang sekolah di
sekolah-sekolah Gubernemen, sedangkan Pram tiap sore mengambil carik-carik daun
untuk makanan kambing. Itu kenyataan timpang bagi Pram muda yang berlindung di
atas tanah yang sama dengan anak-anak sekolahan itu. Ketimpangan yang masih
diwariskan sampai sekarang. Pram dan Ibunya adalah beberapa contoh orang yang
menghargai kerja sebagai kemuliaan, sebagaimana Tagore memuliakan kerja sebagai
pemujaan. Orang yang bekerja di ladang ganja pun punya kemuliaan, sebab Tagore,
seorang Gurudev pemilik ladang itu. Barangkali bagi Tagore, di dalam pohon
ganja kemahaindahan bersemayam dengan sangat halus. Saking halusnya, hanya mata
sekelas Tagore yang sanggup melihatnya.
Ganja
mengandung zat psikoaktif THC [Tetrahydrocannabinol]. Selain itu, ganja juga menghasilkan cannabinoid, yang fungsinya sama dengan endocannabinoid yang dihasilkan oleh
otak manusia sebagaimana dinyatakan oleh Nicoll dan Alger [2004] dalam The
Brain’s Own Marijuana”. Zat ini berfungsi dalam hampir semua proses fisiologis
manusia. Berangkat dari kenyataan inilah, LGN berpendapat untuk menentang penyalahgunaan
ganja dengan mengupayakan pembenargunaan ganja. LGN juga mencatat manfaat medis
ganja dan beberapa penyakit yang bisa ditanggulangi dengan ganja, di antaranya:
Alzheimer, Amyotrophic Lateral Sclerosis, Fibromyalgia, Glaukoma, HIV/ AIDS,
Gangguan Saluran Pencernaan, Radang Sendi, Asma, Depresi, Insomnia, Antibiotik,
Kanker dan Leukemia, Diabetes, Distonia, Epilepsi, Sakit Kepala dan Migrain,
Sklerosis Ganda, Perlindungan Sel Saraf, Pertumbuhan Sel Saraf, Osteoporosis,
Kardiovaskular, Pruritus, Sindrom Tourette, Tuberkolosis. Manfaat medis ini
memang dijelaskan dalam Hikayat Pohon Ganja oleh LGN, namun pengawasan dari
dokter terhadap pemakaiannya masih sangat diperlukan. Untuk itu, diperlukan
juga studi yang terbuka terhadap ganja sebagai bahan pengobatan. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Francis Young [1988] bahwa dalam pengertian medis yang
terukur, maruyuana jauh lebih aman dari kebanyakan makanan yang kita konsumsi
[LGN, 2019: 211].
Manfaat
ganja bagi kesehatan yang dicatat oleh LGN, mungkin juga diketahui oleh
Rabindranath Tagore. Jika bagi Tagore, ganja tidak ada manfaatnya, untuk apa
dia menulisnya dan menjadikannya milik? Apakah ganja bagi Tagore adalah simbol
segala macam kekotoran seperti mala, papa, pataka? Karena itu Tagore menggunakannya sebagai metafora diri yang
serba kotor? Jelas tidak, sebab Atharwa Weda Samhita [XI.6.15] menyebutkan: pañca rājyāni vīrudhāṃ somaśreṣṭhāni brūmaḥ,
darbho bhaṅgo yavaḥ saha te no muñcantv aṃhasaḥ [lima kerajaan
tumbuh-tumbuhan yang Soma pimpin sebagai Tuan. Darbha, Ganja, Jelai, dan Saha,
semoga membebaskan kita dari duka]. Di dalam Weda, ganja adalah salah satu dari
lima tumbuhan yang dianggap suci dan diharapkan membebaskan dari duka sengsara.
Jika Tagore memang dibentuk oleh tradisi Upanisad yang dengan sendirinya adalah
tradisi Weda, alasan ini sudah cukup menguatkan mengapa sang Fajar Dari Timur
mencerahkan kegelapan pengetahuan tentang ganja.
Tagore
tidak hanya menjadi pencerah, tapi juga menjadi penghubung Timur dan Barat. Vittorino
Veronese, Direktur Jenderal UNESCO pada tahun 1961 menyampaikan pesan yang
disampaikan pada peringatan seratus tahun kelahiran Tagore yang dilakukan di
Bombay pada bulan Januari. Pesan itu berbunyi ‘Tagore was in truth a living link between East and West. And so he
willed it. His entire life he fought against narrow distrust of foreign
cultures. He had faith in the fruitfulness of cultural intercourse and
friendship. With this message he was and remains a Guru to Unesco, and it is
both fitting and imperative that Unesco’s homage to Tagore should join that of
the rest of mankind’. Jika seorang yang dipuji sebagai living link antara Timur dan Barat, seorang Guru bagi UNESCO
memikirkan hakikat ganja, barangkali perlu juga cara ini diikuti oleh setiap
umat manusia. Sebab, jika seorang Gurudev memikirkan sesuatu, artinya ada hal
penting yang tersembunyi di dalam sesuatu yang ia pikirkan.
Dengan
cara berpikir demikian, sangatlah mungkin untuk mendapatkan isi pikiran
Rabindranath. Isi pikiran itulah yang bisa digali dari karya-karya Tagore. Sebab,
‘membicarakan karya-karya Rabindranath Tagore, sama penting dan sama menariknya
dengan membicarakan riwayat kehidupan serta pemikirannya’. Demikian kata
Palguna dalam sebuah tulisan berjudul Rabindranath
Tagore Tukang Kebun Dari Taman Keindahan Ilahi. Dengan kata lain, melalui
pembacaan yang serius yakni membolak-balikkan kata-kata Tagore dalam karyanya,
kita dapat memperoleh sari-sari permenungannya. Membolak-balik kata sama dengan
kerja petani yang membalik tanah. Hanya pada tanah subur yang diolah dengan
kerja, sari pati Bumi bisa didapat. Hanya pada kata-kata yang terus
direnungkan, kemahaindahan sebagai sari pati pikiran bisa direguk.
Saripati
pikiran inilah yang dicari-cari oleh para pemikir pejuang. Saripati pikiran
berupa kebijaksanaan yang tercerahkan. Berangkat dari keadaan gelap [avidya] menuju keadaan yang cerah [vidya]. Yeats saat memberikan pengantar
dalam Gitanjali [Song Offerings],
mengutip perkataan seorang Doktor dalam bidang kesehatan dari Bengali yang ia
kenal. Doktor itu berkata ‘I read
Rabindranath every day, to read one line of his is to forget all the troubles
of the world’. Perkataan itu diungkapkan, setelah Yeats menyatakan bahwa ‘[…] though these prose translations from
Rabindranath Tagore have stirred my blood as nothing has for years […]’. Karya-karya
Tagore dirasai telah meruwat segala masalah di dunia berupa kekotoran batin.
Karya Tagore meruwat atau menyucikan batin-batin yang sebelumnya masih diliputi
oleh kegelapan pikiran sendiri. Pandangan ini juga dianut oleh IBG Agastia
yang menekankan pentingnya membaca dan memahami pertanyaan Tagore dalam eseinya
Spiritual Union. Agastia
mengungkapkan, bahwa konsep advaitam
perlu dipahami terlebih dahulu sebelum membaca karya-karya Tagore. Advaitam bagi Agastia adalah Ananda. Ananda adalah Rasa, yakni
yang Tak Terbatas sendiri: raso vai sah.
Anandam
atau kebahagiaan yang tidak berbalik pada ketidakbahagiaan itu, hanya mungkin
didapat jika seseorang mau melepas kulit-kulitnya. Kulit inilah lapisan demi
lapisan yang mengurung kesadaran. Ada lima lapisan yang mengurung kesadaran
tersebut. Usaha untuk mendapatkan anandam,
sama artinya dengan usaha melepaskan diri dari ikatan ini. Kelima ikatan ini
adalah lapisan tubuh yang tercipta dari makanan [ana], nafas [prana],
pikiran [mano], budhi [wijñana], kebahagiaan [anandam]. Anandam sendiri merupakan lapisan yang turut mengurung kesadaran.
Sampai disana, disediakan pilihan antara melewati kebahagiaan atau berdiam
sampai di batas itu.
Aji
Sangkya yang ditulis oleh Ida Ketut Djelantik, menegaskan bahwa kebahagiaan ini
dibagi menjadi dua yakni wahya tusti dan
dhyatmika tusti. Wahya tusti terdiri dari lima kebahagiaan yakni adnyana [kebahagiaan yang didapat karena
telah mendapatkan harta, karena itu ia lupa mengejar pengetahuan]. Raksana, bahagia karena merasakan diri
telah berhasil menjaga segala milik yang didapat dengan susah payah. Ksaya, bahagia karena telah terlepas
dari rasa sakit atau tidak terkena penyakit. Sangga, kebahagiaan yang dicapai karena telah berhasil berkumpul
dengan keluarga, pasangan juga anak. Ahingsa,
bahagia karena membunuh hewan yang akan digunakan untuk memenuhi kerakusannya. Dhyatmika tusti terdiri dari: Abagia yakni bahagia meski dalam keadaan
miskin, sebab sadar itu semua hasil perbuatan terdahulu. Karena itu, menyerah
pada hidup dan tidak berusaha menjadi lebih baik dalam kehidupan sekarang. Akala, merasa bahagia meski segala yang
dicari belum ditemukan dan menyadari itu semua adalah kehendak Tuhan. Akibatnya
tidak sadar kalau hidup sekarang bisa digunakan untuk berjuang demi mendapat
segala yang dicari. Anatma, bahagia
meski belum terbukti. Hal ini biasanya dialami oleh seorang murid yang percaya
begitu saja dengan ajaran gurunya. Atau terlampau yakin dengan ajaran sastra,
singkatnya hanya karena segala ajaran sastra berhasil dipecahkannya ia sudah
merasa sangat bahagia. Karena itu, tidak lagi berusaha meraih hasil ajaran
dengan usaha sendiri.
Kebahagiaan
yang demikian menurut teks Tantri Kamandaka, mesti dilewati. Pernyataan ini
tidak secara eksplisit, tapi dapat dipahami saat pengenalan Dyah Tantri sebagai
seorang wanita cerdas yang berhasil menguasai sastra. Tidak hanya menguasai,
tapi melewati. Di dalam teks tersebut dinyatakan: Ya hetunirākon umundange atmajanira sang mangaran Dyah Tantri, sang
kanyakādi surupa, nguniweh kaprajñanira wagiswarīwa, tulya Hyang Saraswati
prajñanira. Tatan hana kapinggingnira, sampun putus sire sarwa śāstra, mwang
ring sarwa tantra, tattwāgama, tattwa jñāna, nguni n pamutus ning sarwa tattwa,
tasak sira ring sawopadesa, mwang hasta kosala [Itulah sebabnya beliau memanggil
putrinya yang bernama Dyah Tantri, seorang gadis cantik, terlebih lagi sangat
pandai, sungguh bagaikan Dewi Saraswati kepandaian dan kebijaksanaannya. Tidak
ada yang tidak diketahuinya, beliau memahami segala śāstra, serta memahami semua ajaran tantra, tattwa agama, tattwa jñāna, memahami hakikat tattwa,
paham pada semua upadesa dan ajaran hasta kośala] [Agastia, 1987:36]. Semua
ajaran yang disebutkan telah berhasil dikuasai oleh Dyah Tantri. Salah satu
ajaran yang dikuasainya adalah Tantra. Karena ia menguasai Tantra, ia dikenal
dengan nama Tantri.
Demikianlah
kebahagiaan itu dinikmati dan dilewati. Tidak terkecuali kebahagiaan yang
dinikmati oleh para kawi. Para kawi menikmati kebahagiaan ketika berhasil
menyatu dengan keindahan [angawaki langö].
Kawi-kawi itu dimabuk oleh keindahan yang tidak terperikan. Kebahagiaan ini
dijelaskan dengan kata kalangwan. Untuk
mencapai titik itu, seorang kawi melakukan pengembaraan untuk mendapatkan
keindahan [alanglang kalangwan]. Ada
banyak kakawin yang menceritakan tentang perjalanan seorang kawi yang
mengembara untuk mendapatkan sari-sari keindahan itu. Pengarang Wrӗtasañcaya
mengatakan ia harus meninggalkan kekasihnya untuk memenuhi hasratnya demi
mendapat keindahan [sakari harӗpku
lalita nggurit langö]. Mpu Dharmaja mengatakan, ia sangat ingin ingin
melihat wujud Dewa Smara yang sesungguhnya tidak bertubuh. Bahkan Mpu Dharmaja
mengatakan dirinya dilupakan oleh istrinya, karena sangat lama telah ia
tinggalkan. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan keindahan, para kawi mengorbankan
hal-hal yang sangat berharga dalam hidupnya, termasuk hidupnya yang berharga.
Dalam
melakukan pencatatan atas pengalaman estetik yang telah dialami oleh para kawi,
tidak sedikit yang menulisnya dengan gaya yang absurd. Adegan-adegan erotis,
dijabarkan sedetail mungkin. Oleh karena itu, berkaitan dengan ungkapan
Rabindranath Tagore, tidak aneh jika ada kata ganja pada sekumpulan sajak Tukang
Kebun. Tidak hanya selembar daun ganja, tapi seladang. Ganja itu masih tabu,
tapi Tagore menyebutnya. Tidak hanya menyebut, tapi menjadikan kata itu tidak
tabu. Justru indah. Di tingkat itulah penyair menjadi pencipta, kawi. Seorang kawi yang melahirkan dan dilahirkan oleh karyanya, memerlukan
pengalaman nyata untuk memindahkan apa yang sudah ada di dunia ini ke dalam
karya sastra yang tahan zaman. Hanya karya sastra yang menyajikan kebenaran
universal yang mampu bertahan dari perubahan zaman itu. Setidaknya hal ini
disadari betul oleh Teeuw ketika menyatakan bahwa sastra memang berurusan
dengan universal truth. Apakah yang
dimaksudkan dengan universal truth?
Kebenaran yang bisa diyakini oleh seluruh dunia.
Penemuan atas dasar keyakinan ini bisa jadi dengan menyebut Tuhan, bisa juga
tanpa Tuhan. Tuhan yang konon mengendalikan semua yang ada di dunia ini. Atau
dunia ini bergerak karena sudah hukum alam [Rta]. Keduanya konsep belaka yang
tidak untuk dihinakan, karena ia tidak dapat dihina. Jangankan dihina, bahkan
wujud paling halus yang dimiliki manusia tidak bisa menggambarkannya. Karena
itu ia disebut acintya. Lalu apa yang
dilihat oleh kebanyakan orang yang mengaku telah melihatnya?
Barangkali hanya mata yang sudah terlatih melihat bisa
memandangnya dengan khusuk. Barangkali mata yang demikian dimiliki oleh mereka
yang bersedia mempersembahkan hidupnya demi kebahagiaan seluruh dunia. Tagore
adalah salah satu yang meyakini bahwa hidup adalah persembahan. Tagore dalam
sajak nomor 17 di atas, juga mengajarkan sesuatu tentang ladang rami dan ganja
miliknya. Apa yang sudah diajarkan Tagore, tidak semestinya disia-siakan begitu
saja. Mungkinkah bagi Rabindranath Tagore, Tuhan tidak hanya mengendalikan
segalanya, tapi juga berada di dalam segalanya? Masalahnya, bisakah kita
melihat wajah Tuhan pada sebatang pohon ganja?
Rujukan
Agastia, IBG.
1987. Sagara Giri, Kumpulan Esei Sastra
Jawa Kuna. Denpasar: Wyāsa Sanggraha.
Agastia, IBG. 2002.
“Rabindranath Tagore: Keindahan Tak Terbatas”. Dalam Rabindranath Tagore Puisi
Sepanjang Masa. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.
Djelantik, Ida
Ktoet. 2008. Aji Sangkya, Suntingan Teks,
Terjemahan, dan Analisis Isi oleh I Wayan Sukayasa dan Ida Bagus Jelantik.
Denpasar: Widya Dharma.
Palguna, IBM.
2002. “Rabindranath Tagore Tukang Kebun Dari Taman Keindahan Ilahi”. Dalam
Rabindranath Tagore Puisi Sepanjang Masa. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.
Prabhupada, A.C. Bhaktivedanta Swami. 1972. Śrī Īśopanisad. Los Angeles: ISKCON
Books.
[1] https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/66522/pp-no-1-tahun-1980