Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Di antara 8,9 juta species yang berkelana di atas bumi ini, kitalah satu-satunya mahluk yang terobsesi dengan waktu. Manusia mengkonstruksi, memberi makna, serta memilah-milah waktu dengan cara dan metode yang begitu obsesif dan membelenggu.
Dengan fanatik kita membedah waktu menjadi tahun, bulan, hari, menit, detik, dan mili detik. Meskipun kita tahu persis bahwa tanpa bantuan dari alat-alat non-biologis, seperti arloji, chronometer, kalendar, dan isotop radioaktif, akan mustahil bagi kita untuk mengetahui pukul berapa saat ini atau berapa menit telah berlalu semenjak saya memulai percakapan ini.
Dengan ambisius kita memproyeksikan waktu menjadi dekade, windu, abad, millennium, hingga maha yuga dan bahkan kalpa (4,5 milyar tahun). Meskipun kita sangat paham bahwa tak ada seorangpun dari kita yang panjang usianya akan melebihi dua abad. Meskipun kita tahu persis bahwa sebagian besar dari kita, termasuk saya dan mungkin beberapa dari kalian, tak akan menjadi Homerus atau Vyasa, yang nama dan karyanya masih dibicarakan 20 abad sesudah mereka sirna.
Dengan jumawa kita membagi waktu menjadi masa lampau, masa kini dan masa depan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lampau dan betapa tidak ada jaminan bahwa besok pagi kita akan terjaga untuk menyambut masa depan.
Sedangkan masa kini sendiri adalah ilusi yang selalu luput dari genggaman dan pikiran. Saat kita sedang membicarakannya, masa kini diam-diam telah menjadi masa lampau.
Obsesi kita tentang waktu mungkin adalah cerminan mimpi sia-sia kita tentang keabadian, sebuah kondisi di mana waktu terbentang tanpa batas atau malah sebuah kondisi di mana waktu tak lagi ada.
Obsesi kita tentang waktu bisa jadi adalah pengakuan diam-diam tentang betapa rapuhnya eksistensi kita, betapa sementaranya kehidupan ini, dan betapa fana-nya segala hal yang kita kenal dan kita cintai.
Obsesi kita tentang waktu pada akhirnya menjadi penjara paradigma yang menempatkan waktu sebagai penanda kejayaan. Paradigma yang percaya bahwa kecepatan adalah keutamaan. Cara berpikir yang mengukur sebuah keberhasilan dari seberapa cepat kita mampu menyelesaikan sesuatu, dan bukannya dari apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan apa yang kita pelajari selama melakukan hal itu.
Karenanya, kita telah mereduksi hidup kita menjadi tak lebih dari himpunan angka dan nomor yang tak saling terhubung, dan bukannya sebuah kontinum perjumpaan yang mencerahkan.
Dalam penjara paradigma ini, jogging di pagi hari dimaknai sebagai pencapaian: 1 jam 15 menit atau 10 kilometer. Ia didefinisikan dengan angka dan nomor, dengan waktu tempuh atau jarak yang dicapai.
Joging di pagi hari itu tidak dimaknai dan tidak dialami sebagai sebuah proses perjumpaan dengan hangatnya kolom-kolom cahaya matahari, rindang pepohonan yang menyegarkan, komposisi lagu yang dinyanyikan burung-burung liar, maupun rasa sakit yang timbul tenggelam pada kedua lutut kita.
Saat ini kita lebih terbiasa untuk terburu-buru untuk sampai dan bukannya pelan-pelan menuju
Waktu—monster ciptaan kita sendiri---kini terus menerus menghantui kita, dengan kebosanan dan kegairahan, kekhawatiran dan kepasrahan, yang berselang-seling tanpa henti tanpa jeda
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti terobsesi pada waktu, untuk keluar dari penjara paradigma itu, dan ikhlas memeluk ketidakabadian kita. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berupaya menaklukkan waktu dan belajar untuk berkelana tanpa panduannya.
Mungkin sesudah itu kita bisa sungguh-sungguh hidup tanpa khawatir tentang apakah kita berjalan terlalu cepat, ataukah terlalu lambat. Tanpa khawatir apakah kita melangkah ke belakang atau ke depan. Karena toh kita sudah hidup dengan sepenuh2nya merasakan, sedalam-dalamnya menghayati. Karena toh kita sudah berhenti mengukur hidup kita dengan angka, nomor dan waktu.
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...