Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Di antara 8,9 juta species yang berkelana di atas bumi ini, kitalah satu-satunya mahluk yang terobsesi dengan waktu. Manusia mengkonstruksi, memberi makna, serta memilah-milah waktu dengan cara dan metode yang begitu obsesif dan membelenggu.
Dengan fanatik kita membedah waktu menjadi tahun, bulan, hari, menit, detik, dan mili detik. Meskipun kita tahu persis bahwa tanpa bantuan dari alat-alat non-biologis, seperti arloji, chronometer, kalendar, dan isotop radioaktif, akan mustahil bagi kita untuk mengetahui pukul berapa saat ini atau berapa menit telah berlalu semenjak saya memulai percakapan ini.
Dengan ambisius kita memproyeksikan waktu menjadi dekade, windu, abad, millennium, hingga maha yuga dan bahkan kalpa (4,5 milyar tahun). Meskipun kita sangat paham bahwa tak ada seorangpun dari kita yang panjang usianya akan melebihi dua abad. Meskipun kita tahu persis bahwa sebagian besar dari kita, termasuk saya dan mungkin beberapa dari kalian, tak akan menjadi Homerus atau Vyasa, yang nama dan karyanya masih dibicarakan 20 abad sesudah mereka sirna.
Dengan jumawa kita membagi waktu menjadi masa lampau, masa kini dan masa depan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lampau dan betapa tidak ada jaminan bahwa besok pagi kita akan terjaga untuk menyambut masa depan.
Sedangkan masa kini sendiri adalah ilusi yang selalu luput dari genggaman dan pikiran. Saat kita sedang membicarakannya, masa kini diam-diam telah menjadi masa lampau.
Obsesi kita tentang waktu mungkin adalah cerminan mimpi sia-sia kita tentang keabadian, sebuah kondisi di mana waktu terbentang tanpa batas atau malah sebuah kondisi di mana waktu tak lagi ada.
Obsesi kita tentang waktu bisa jadi adalah pengakuan diam-diam tentang betapa rapuhnya eksistensi kita, betapa sementaranya kehidupan ini, dan betapa fana-nya segala hal yang kita kenal dan kita cintai.
Obsesi kita tentang waktu pada akhirnya menjadi penjara paradigma yang menempatkan waktu sebagai penanda kejayaan. Paradigma yang percaya bahwa kecepatan adalah keutamaan. Cara berpikir yang mengukur sebuah keberhasilan dari seberapa cepat kita mampu menyelesaikan sesuatu, dan bukannya dari apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan apa yang kita pelajari selama melakukan hal itu.
Karenanya, kita telah mereduksi hidup kita menjadi tak lebih dari himpunan angka dan nomor yang tak saling terhubung, dan bukannya sebuah kontinum perjumpaan yang mencerahkan.
Dalam penjara paradigma ini, jogging di pagi hari dimaknai sebagai pencapaian: 1 jam 15 menit atau 10 kilometer. Ia didefinisikan dengan angka dan nomor, dengan waktu tempuh atau jarak yang dicapai.
Joging di pagi hari itu tidak dimaknai dan tidak dialami sebagai sebuah proses perjumpaan dengan hangatnya kolom-kolom cahaya matahari, rindang pepohonan yang menyegarkan, komposisi lagu yang dinyanyikan burung-burung liar, maupun rasa sakit yang timbul tenggelam pada kedua lutut kita.
Saat ini kita lebih terbiasa untuk terburu-buru untuk sampai dan bukannya pelan-pelan menuju
Waktu—monster ciptaan kita sendiri---kini terus menerus menghantui kita, dengan kebosanan dan kegairahan, kekhawatiran dan kepasrahan, yang berselang-seling tanpa henti tanpa jeda
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti terobsesi pada waktu, untuk keluar dari penjara paradigma itu, dan ikhlas memeluk ketidakabadian kita. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berupaya menaklukkan waktu dan belajar untuk berkelana tanpa panduannya.
Mungkin sesudah itu kita bisa sungguh-sungguh hidup tanpa khawatir tentang apakah kita berjalan terlalu cepat, ataukah terlalu lambat. Tanpa khawatir apakah kita melangkah ke belakang atau ke depan. Karena toh kita sudah hidup dengan sepenuh2nya merasakan, sedalam-dalamnya menghayati. Karena toh kita sudah berhenti mengukur hidup kita dengan angka, nomor dan waktu.
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...