Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Di antara 8,9 juta species yang berkelana di atas bumi ini, kitalah satu-satunya mahluk yang terobsesi dengan waktu. Manusia mengkonstruksi, memberi makna, serta memilah-milah waktu dengan cara dan metode yang begitu obsesif dan membelenggu.
Dengan fanatik kita membedah waktu menjadi tahun, bulan, hari, menit, detik, dan mili detik. Meskipun kita tahu persis bahwa tanpa bantuan dari alat-alat non-biologis, seperti arloji, chronometer, kalendar, dan isotop radioaktif, akan mustahil bagi kita untuk mengetahui pukul berapa saat ini atau berapa menit telah berlalu semenjak saya memulai percakapan ini.
Dengan ambisius kita memproyeksikan waktu menjadi dekade, windu, abad, millennium, hingga maha yuga dan bahkan kalpa (4,5 milyar tahun). Meskipun kita sangat paham bahwa tak ada seorangpun dari kita yang panjang usianya akan melebihi dua abad. Meskipun kita tahu persis bahwa sebagian besar dari kita, termasuk saya dan mungkin beberapa dari kalian, tak akan menjadi Homerus atau Vyasa, yang nama dan karyanya masih dibicarakan 20 abad sesudah mereka sirna.
Dengan jumawa kita membagi waktu menjadi masa lampau, masa kini dan masa depan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lampau dan betapa tidak ada jaminan bahwa besok pagi kita akan terjaga untuk menyambut masa depan.
Sedangkan masa kini sendiri adalah ilusi yang selalu luput dari genggaman dan pikiran. Saat kita sedang membicarakannya, masa kini diam-diam telah menjadi masa lampau.
Obsesi kita tentang waktu mungkin adalah cerminan mimpi sia-sia kita tentang keabadian, sebuah kondisi di mana waktu terbentang tanpa batas atau malah sebuah kondisi di mana waktu tak lagi ada.
Obsesi kita tentang waktu bisa jadi adalah pengakuan diam-diam tentang betapa rapuhnya eksistensi kita, betapa sementaranya kehidupan ini, dan betapa fana-nya segala hal yang kita kenal dan kita cintai.
Obsesi kita tentang waktu pada akhirnya menjadi penjara paradigma yang menempatkan waktu sebagai penanda kejayaan. Paradigma yang percaya bahwa kecepatan adalah keutamaan. Cara berpikir yang mengukur sebuah keberhasilan dari seberapa cepat kita mampu menyelesaikan sesuatu, dan bukannya dari apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan apa yang kita pelajari selama melakukan hal itu.
Karenanya, kita telah mereduksi hidup kita menjadi tak lebih dari himpunan angka dan nomor yang tak saling terhubung, dan bukannya sebuah kontinum perjumpaan yang mencerahkan.
Dalam penjara paradigma ini, jogging di pagi hari dimaknai sebagai pencapaian: 1 jam 15 menit atau 10 kilometer. Ia didefinisikan dengan angka dan nomor, dengan waktu tempuh atau jarak yang dicapai.
Joging di pagi hari itu tidak dimaknai dan tidak dialami sebagai sebuah proses perjumpaan dengan hangatnya kolom-kolom cahaya matahari, rindang pepohonan yang menyegarkan, komposisi lagu yang dinyanyikan burung-burung liar, maupun rasa sakit yang timbul tenggelam pada kedua lutut kita.
Saat ini kita lebih terbiasa untuk terburu-buru untuk sampai dan bukannya pelan-pelan menuju
Waktu—monster ciptaan kita sendiri---kini terus menerus menghantui kita, dengan kebosanan dan kegairahan, kekhawatiran dan kepasrahan, yang berselang-seling tanpa henti tanpa jeda
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti terobsesi pada waktu, untuk keluar dari penjara paradigma itu, dan ikhlas memeluk ketidakabadian kita. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berupaya menaklukkan waktu dan belajar untuk berkelana tanpa panduannya.
Mungkin sesudah itu kita bisa sungguh-sungguh hidup tanpa khawatir tentang apakah kita berjalan terlalu cepat, ataukah terlalu lambat. Tanpa khawatir apakah kita melangkah ke belakang atau ke depan. Karena toh kita sudah hidup dengan sepenuh2nya merasakan, sedalam-dalamnya menghayati. Karena toh kita sudah berhenti mengukur hidup kita dengan angka, nomor dan waktu.
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...