Orasi ini disampaikan Wayan Juniarta pada peluncuran Buku Antologi Puisi "Saron" di Jatijagat Kampung Puisi (JKP), Renon, Denpasar, Minggu (23/12/2018) malam:
Di antara 8,9 juta species yang berkelana di atas bumi ini,
kitalah satu-satunya mahluk yang terobsesi dengan waktu. Manusia
mengkonstruksi, memberi makna, serta memilah-milah waktu dengan cara dan metode
yang begitu obsesif dan membelenggu.
Dengan fanatik kita membedah waktu menjadi tahun, bulan,
hari, menit, detik, dan mili detik. Meskipun kita tahu persis bahwa tanpa
bantuan dari alat-alat non-biologis, seperti arloji, chronometer, kalendar, dan
isotop radioaktif, akan mustahil bagi kita untuk mengetahui pukul berapa saat
ini atau berapa menit telah berlalu semenjak saya memulai percakapan ini.
Dengan ambisius kita memproyeksikan waktu menjadi dekade, windu, abad, millennium, hingga maha yuga dan bahkan kalpa (4,5 milyar tahun). Meskipun kita sangat paham bahwa tak ada seorangpun dari kita yang panjang usianya akan melebihi dua abad. Meskipun kita tahu persis bahwa sebagian besar dari kita, termasuk saya dan mungkin beberapa dari kalian, tak akan menjadi Homerus atau Vyasa, yang nama dan karyanya masih dibicarakan 20 abad sesudah mereka sirna.
Dengan jumawa kita membagi waktu menjadi masa lampau, masa
kini dan masa depan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kita
lakukan untuk mengubah masa lampau dan betapa tidak ada jaminan bahwa besok
pagi kita akan terjaga untuk menyambut masa depan.
Sedangkan masa kini sendiri adalah ilusi yang selalu luput
dari genggaman dan pikiran. Saat kita sedang membicarakannya, masa kini
diam-diam telah menjadi masa lampau.
Obsesi kita tentang waktu mungkin adalah cerminan mimpi
sia-sia kita tentang keabadian, sebuah kondisi di mana waktu terbentang tanpa
batas atau malah sebuah kondisi di mana waktu tak lagi ada.
Obsesi kita tentang waktu bisa jadi adalah pengakuan
diam-diam tentang betapa rapuhnya eksistensi kita, betapa sementaranya
kehidupan ini, dan betapa fana-nya segala hal yang kita kenal dan kita cintai.
Obsesi kita tentang waktu pada akhirnya menjadi penjara
paradigma yang menempatkan waktu sebagai penanda kejayaan. Paradigma yang percaya
bahwa kecepatan adalah keutamaan. Cara berpikir yang mengukur sebuah
keberhasilan dari seberapa cepat kita mampu menyelesaikan sesuatu, dan
bukannya dari apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan apa yang kita
pelajari selama melakukan hal itu.
Karenanya, kita telah mereduksi hidup kita menjadi tak lebih
dari himpunan angka dan nomor yang tak saling terhubung, dan bukannya sebuah
kontinum perjumpaan yang mencerahkan.
Dalam penjara paradigma ini, jogging di pagi hari dimaknai
sebagai pencapaian: 1 jam 15 menit atau 10 kilometer. Ia didefinisikan dengan
angka dan nomor, dengan waktu tempuh atau jarak yang dicapai.
Joging di pagi hari itu tidak dimaknai dan tidak dialami
sebagai sebuah proses perjumpaan dengan hangatnya kolom-kolom cahaya matahari,
rindang pepohonan yang menyegarkan, komposisi lagu yang dinyanyikan
burung-burung liar, maupun rasa sakit yang timbul tenggelam pada kedua lutut
kita.
Saat ini kita lebih terbiasa untuk terburu-buru untuk sampai
dan bukannya pelan-pelan menuju
Waktu—monster ciptaan kita sendiri---kini terus menerus
menghantui kita, dengan kebosanan dan kegairahan, kekhawatiran dan kepasrahan,
yang berselang-seling tanpa henti tanpa jeda
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti terobsesi
pada waktu, untuk keluar dari penjara paradigma itu, dan ikhlas memeluk
ketidakabadian kita. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berupaya menaklukkan
waktu dan belajar untuk berkelana tanpa panduannya.
Mungkin sesudah itu kita bisa sungguh-sungguh hidup tanpa khawatir tentang apakah kita berjalan terlalu cepat, ataukah terlalu lambat. Tanpa khawatir apakah kita melangkah ke belakang atau ke depan. Karena toh kita sudah hidup dengan sepenuh2nya merasakan, sedalam-dalamnya menghayati. Karena toh kita sudah berhenti mengukur hidup kita dengan angka, nomor dan waktu.