Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon mangga yang dikelilingi rumput setinggi lutut. Orang kampung sudah banyak yang tahu Pak Ik bisa mengobati orang yang terkena bisa binatang. Ia melakukannya dengan caranya yang tradisional.
“Sakit, sakit…tolong-tolong,” teriak Cakeh keras-keras memegangi kakinya yang memerah bekas patokan ular itu.
Bu Lisa menangis mengelus-elus kaki putrinya bermaksud mengusir rasa sakit itu. Ia tahu tak akan berhasil usahanya yang sia-sia, tapi ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, selain menunggu Pak Ik yang sudah dijemput oleh salah seorang warga ke kebun karetnya.
Perjalanan dari rumah ke kebun Pak Ik sekitar 20 menit kalau tidak musim hujan. Orang itu membawa motornya kencang tak mempedulikan jalan yang becek. Motornya dibalut lumpur.
“Pak Ik, si Cakeh anaknya Bu Lisa digigit ular kobra. Sekarang dia di rumah bapak minta obat.” Orang itu baru saja datang.
Pak Ik terus sibuk memotong rumput-rumput tinggi yang ada di bawah pohon karet, seperti ia tak mengheriaukan orang yang baru datang itu. “Kau berangkat saja duluan, sebentar lagi saya menyusul.” Ia masih sibuk memotong rumput-rumput itu.
“Bareng sama aku aja Pak, biar cepat.” Orang itu belum mematikasn motornya sankin mau buru-buru. Ia takut bisa ular yang menempel pada kaki Cakeh terus menjalar sampai ke sekujur tubuhnya sehingga susah untuk diobati. Dan ia tidak berani untuk memaksa. Akhirnya ia pulang lebih dulu sendirian. “Pak Ik mana?” tanya Bu Lisa dengan wajah cemas.
“Katanya menyusul.”
“Kok tidak bareng,” nada Bu Lisa geram. Orang yang menjemput mengalah, mengerti kenapa ia marah, dan tak seharusnya dilawan.
“Bapak tidak mau bareng saya, disuruhnya saya duluan.”
Ibu itu seperti tak sabar. Ia mondar-mandir tak jelas. Kegelisahan bertambah-tambah di wajahnya. Sementara Cakeh semakin kuat teriakannya. “Tolong..., tolong…, sakit…, kakiku sakit, Bu….”
* * *
Pak Ik berjalan lambat lewat jalan kecil itu. Setiba di rumah ia menemukan banyak orang. Cakeh terus meradang kesakitan. Pak Ik seperti tak acuh, tersenyum pun ia tidak. Ia meletak tas kecilnya berisi peralatan kebun, lalu ia bergegas ke kamar mandi.
“Kenapa bapak itu tidak langsung memberikan obatnya?” tanya salah seorang warga pada Bu Lisa yang gelisah tak berdaya. Ia hanya menunggu pertolongan.
“Kau tenang saja Pak Ik memang begitu. Tingkahnya memang aneh. Kau harus percaya dia pasti memberikan pengobatan yang terbaik,” balas salah seorang yang dari tadi sudah duduk tenang di situ.
“Mungkin dia ke kamar mandi sambil mengobati Cakeh,” ucap orang itu yang sudah percaya kepada Pak Ik. Bu Lisa belum tenang. Putrinya semakin keras teriakannya.
“Bagaimana bisa, buktinya Cakeh masih kesakitan.”
Susana tegang. Pak Ik keluar dari kamar mandi, ngelap badannya yang basah dengan handuk buruk, berganti pakaian, mengambil tanah merah dalam tas kecilnya yang dibawa dari kebun. Ia duduk di dekat Cakeh, menempelkan tanah itu pada bagian kaki yang terkena patokan ular.
Cakeh yang merintih kesakitan dan masih teriak-teriak langsung diam. Ia memanggil-manggil ibunya. “Ibu kaki Cakeh dingin, dingin sekali Ibu. Sakitnya sudah hilang.”
Cakeh disuruh Pak Ik duduk.
Ia duduk dan berdiri menggoyang-goyangkan kakinya. Ia merasa sudah sembuh. Bu Lisa tertawa senang. Setelah itu terjadilah obrolan panjang dalam rumah itu, cerita mereka melebar ke mana-mana, samapai mereka tertawa terbahak-bahak. Begitulah Pak Ik, pengobatannya lambat tapi mujarab. Sudah ribuan orang yang datang ke rumahnya minta obat. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...