Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon mangga yang dikelilingi rumput setinggi lutut. Orang kampung sudah banyak yang tahu Pak Ik bisa mengobati orang yang terkena bisa binatang. Ia melakukannya dengan caranya yang tradisional.
“Sakit, sakit…tolong-tolong,” teriak Cakeh keras-keras memegangi kakinya yang memerah bekas patokan ular itu.
Bu Lisa menangis mengelus-elus kaki putrinya bermaksud mengusir rasa sakit itu. Ia tahu tak akan berhasil usahanya yang sia-sia, tapi ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, selain menunggu Pak Ik yang sudah dijemput oleh salah seorang warga ke kebun karetnya.
Perjalanan dari rumah ke kebun Pak Ik sekitar 20 menit kalau tidak musim hujan. Orang itu membawa motornya kencang tak mempedulikan jalan yang becek. Motornya dibalut lumpur.
“Pak Ik, si Cakeh anaknya Bu Lisa digigit ular kobra. Sekarang dia di rumah bapak minta obat.” Orang itu baru saja datang.
Pak Ik terus sibuk memotong rumput-rumput tinggi yang ada di bawah pohon karet, seperti ia tak mengheriaukan orang yang baru datang itu. “Kau berangkat saja duluan, sebentar lagi saya menyusul.” Ia masih sibuk memotong rumput-rumput itu.
“Bareng sama aku aja Pak, biar cepat.” Orang itu belum mematikasn motornya sankin mau buru-buru. Ia takut bisa ular yang menempel pada kaki Cakeh terus menjalar sampai ke sekujur tubuhnya sehingga susah untuk diobati. Dan ia tidak berani untuk memaksa. Akhirnya ia pulang lebih dulu sendirian. “Pak Ik mana?” tanya Bu Lisa dengan wajah cemas.
“Katanya menyusul.”
“Kok tidak bareng,” nada Bu Lisa geram. Orang yang menjemput mengalah, mengerti kenapa ia marah, dan tak seharusnya dilawan.
“Bapak tidak mau bareng saya, disuruhnya saya duluan.”
Ibu itu seperti tak sabar. Ia mondar-mandir tak jelas. Kegelisahan bertambah-tambah di wajahnya. Sementara Cakeh semakin kuat teriakannya. “Tolong..., tolong…, sakit…, kakiku sakit, Bu….”
* * *
Pak Ik berjalan lambat lewat jalan kecil itu. Setiba di rumah ia menemukan banyak orang. Cakeh terus meradang kesakitan. Pak Ik seperti tak acuh, tersenyum pun ia tidak. Ia meletak tas kecilnya berisi peralatan kebun, lalu ia bergegas ke kamar mandi.
“Kenapa bapak itu tidak langsung memberikan obatnya?” tanya salah seorang warga pada Bu Lisa yang gelisah tak berdaya. Ia hanya menunggu pertolongan.
“Kau tenang saja Pak Ik memang begitu. Tingkahnya memang aneh. Kau harus percaya dia pasti memberikan pengobatan yang terbaik,” balas salah seorang yang dari tadi sudah duduk tenang di situ.
“Mungkin dia ke kamar mandi sambil mengobati Cakeh,” ucap orang itu yang sudah percaya kepada Pak Ik. Bu Lisa belum tenang. Putrinya semakin keras teriakannya.
“Bagaimana bisa, buktinya Cakeh masih kesakitan.”
Susana tegang. Pak Ik keluar dari kamar mandi, ngelap badannya yang basah dengan handuk buruk, berganti pakaian, mengambil tanah merah dalam tas kecilnya yang dibawa dari kebun. Ia duduk di dekat Cakeh, menempelkan tanah itu pada bagian kaki yang terkena patokan ular.
Cakeh yang merintih kesakitan dan masih teriak-teriak langsung diam. Ia memanggil-manggil ibunya. “Ibu kaki Cakeh dingin, dingin sekali Ibu. Sakitnya sudah hilang.”
Cakeh disuruh Pak Ik duduk.
Ia duduk dan berdiri menggoyang-goyangkan kakinya. Ia merasa sudah sembuh. Bu Lisa tertawa senang. Setelah itu terjadilah obrolan panjang dalam rumah itu, cerita mereka melebar ke mana-mana, samapai mereka tertawa terbahak-bahak. Begitulah Pak Ik, pengobatannya lambat tapi mujarab. Sudah ribuan orang yang datang ke rumahnya minta obat. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...