Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Maka pada suatu pagi yang hening
kutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,
sebagaimana benih yang lama tersembunyi
tiba-tiba mengenal musimnya.
Tiada aku menanamnya dengan sengaja,
tiada pula aku memanggilnya untuk menuai.
Namun ia bersemi jua
di antara banyak luka.
Dan sejak saat itu
setiap hari terasa lebih luas,
seraya dunia mengetahui
ada sesuatu yang hidup di dadaku dengan buas.
Pada tepi sungai yang panjang
aku memandang arus yang tiada lelah.
Air mengalir dengan setia
menyentuh batu yang diam.
Demikianlah cintaku, sayang,
tiada riuh, tiada memaksa.
Ia hanya datang berulang-ulang,
dengan kesabaran yang sama.
Dan batu yang lama terdiam itu
perlahan menjadi halus,
oleh sentuhan yang tak pernah jemu.
Tatkala hari berjalan perlahan
dan matahari condong ke barat,
aku duduk di sisimu
tanpa keperluan akan banyak kata.
Waktu mengalir di antara kita
laksana sungai yang tenang.
Tiada yang terburu menuju hilir,
tiada yang menoleh ke hulu.
Pada saat-saat itulah
aku mengetahui satu perkara
cinta kadang hadir
dalam sepi yang saling mengerti.
Telah lama pintu hatiku tertutup
oleh musim yang silih berganti.
Namun engkau datang dengan langkah ringan,
membawa cahaya yang tak memaksa.
Engkau tidak mengetuk dengan gaduh,
tidak pula memohon untuk masuk.
Akan tetapi entah bagaimana
pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan di dalam ruang yang lama sunyi itu
cinta berjalan secara perlahan,
menyusun kembali harapan
yang pernah tercerai-berai oleh kenangan.
Nyanyian bagi Nama yang Dihafal
Pada banyak malam yang tenang
aku menghafal namamu perlahan.
Setiap hurufnya kusimpan
di antara kedip yang setia.
Tiada seorang pun mengetahui
betapa dalam ia berdiam.
Sebab cinta sering memilih sunyi
sebagai tempat tinggalnya.
Namun tiap kali namamu tersebut
dunia terasa lebih dekat
seakan segala yang jauh
datang menghampiri hatiku.
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...