Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
sebilah pintu
sudah kubaringkan di situ
keluarlah, seperti kebanyakan
angin lewat, atau para sahabat
yang menyeberang
menjadi orang asing baru
tak terkecuali juga aku
lempar kasur dan tidurmu
pergi lagi kita ke hari baru
hari di mana sudah tak perlu
harus tahu lebih dulu
lipat, muslihatkan
dendam, kebencianmu
yang tak berumah
akan selalu berkemah
di dalamnya
simpan dirimu
di bawah amarah serupa itu
di bawah air panas
air bau kayu kayu
mengalir
mengalir
yang mengalir
sudah bukan dirimu
sedang di cermin beruap
kita tak punya rupa
semua kebohongan
tak usah disingkap
koper itu
sudah tak lagi minta isi
ke situ ke situ, masuklah
omong dan yang kosong
tidak malam, tidak siang
bisa dibawa-bawa
apalagi buat cari cinta
kalau cuma bias
antara bayang dan benda
buat apa juga setia
toh sudah ada anjing
atau manusia
tempel, tempel
tempelkan kematianmu
di situ
dari tembok dan tegel
ambil geming
dan dinginnya
tanpa kecamuk
dunia, sebut saja cinta
yang disemen
seukuran batu bata
untuk dilempar ke siapa,
kau perlu membobolnya dulu
meludah juga kita
di atas nama-nama itu
setelah sama-sama kering
dengan amarah
masing-masing
di atas meja
tikus-tikus dari siapa masuk
mengambil kuping
dari kata-kata
dan sisa kepercayaan
yang tinggal sepotong
nyalakan lilinnya
untuk menjauhkan lalat-lalat
dari selera makan
dan percakapan
yang kosong
ini saatnya memisahkan
sekarang dari kemarin,
malam dari dendam
mari makan
hidup juga sekadar
awet sebentar
.
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...