Willy Fahmy Agiska | kumpulan puisi, 2026 | Jalan Baru 

Willy Fahmy Agiska
by Willy Fahmy Agiska — Januari 23, 2026 in Puisi

Tatkala.co

JALAN BARU

sebilah pintu
sudah kubaringkan di situ
keluarlah, seperti kebanyakan
angin lewat, atau para sahabat
yang menyeberang
menjadi orang asing baru
tak terkecuali juga aku

JALAN BARU 2

lempar kasur dan tidurmu
pergi lagi kita ke hari baru
hari di mana sudah tak perlu
harus tahu lebih dulu

JALAN BARU 3

lipat, muslihatkan
dendam, kebencianmu

yang tak berumah
akan selalu berkemah
di dalamnya
 

JALAN BARU 4

simpan dirimu
di bawah amarah serupa itu
di bawah air panas
air bau kayu kayu

mengalir
mengalir
yang mengalir
sudah bukan dirimu

sedang di cermin beruap
kita tak punya rupa
semua kebohongan
tak usah disingkap
 

JALAN BARU 5

koper itu
sudah tak lagi minta isi

ke situ ke situ, masuklah
omong dan yang kosong

tidak malam, tidak siang
bisa dibawa-bawa

apalagi buat cari cinta
kalau cuma bias
antara bayang dan benda

buat apa juga setia
toh sudah ada anjing
atau manusia
 

JALAN BARU 6

tempel, tempel
tempelkan kematianmu
di situ

dari tembok dan tegel
ambil geming
dan dinginnya

tanpa kecamuk
dunia, sebut saja cinta
yang disemen
seukuran batu bata

untuk dilempar ke siapa,
kau perlu membobolnya dulu
 

JALAN BARU 7

meludah juga kita
di atas nama-nama itu
setelah sama-sama kering
dengan amarah
masing-masing

di atas meja
tikus-tikus dari siapa masuk
mengambil kuping
dari kata-kata
dan sisa kepercayaan
yang tinggal sepotong

nyalakan lilinnya
untuk menjauhkan lalat-lalat
dari selera makan
dan percakapan
yang kosong

ini saatnya memisahkan
sekarang dari kemarin,
malam dari dendam

mari makan
hidup juga sekadar
awet sebentar

.

Tag: Puisi
Avatar

Willy Fahmy Agiska

Related Posts
Cerpen

Gabriela

BY Putri Handayani Juli 03, 2016

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Read More
Cerpen

Wanita Senja

BY Satia Guna Juni 25, 2016

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...

Read More