Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
aku mencintaimu
seperti hujan mencintai jalanan
tanpa ingin memiliki,
cukup jatuh, pulang, dan menghilang
di gelas kopi yang kau tinggalkan
namamu mengendap perlahan
aku meminumnya
agar rindu tidak tumpah ke mana-mana
jika suatu hari aku lupa caraku berdoa
biarlah wajahmu
menjadi satu-satunya kalimat
yang masih kuingat dengan sempurna
kau lupa kaus kakimu
di sudut kamar
ia menggulung diam-diam
seperti rindu yang malu mengaku
aku tidak memindahkannya
sebab dari sanalah
aku belajar menunggumu
tanpa suara, tanpa jadwal
barangkali cinta memang seperti itu
hadir sebagai benda sepele
yang membuat kamar
tak pernah benar-benar kosong
aku menyebut namamu
pelan-pelan
takut angin iri dan membawanya pergi
di antara detak jam dan lampu redup
namamu tumbuh
seperti doa yang enggan selesai
jika kelak dunia bertanya
apa yang paling sering kupikirkan
aku akan menjawab:
sesuatu yang selalu kusebut dengan lirih
kau meminjamkan payungmu
padahal hujan masih panjang
aku menerimanya
seperti menerima masa depan
di bawah payung itu
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu berjalan berdampingan
kadang cukup saling menjaga dari jauh
jika nanti hujan reda
kembalikan payung itu padaku
aku ingin meminjam lagi
alasan untuk bertemu
aku ingin menulis surat panjang
tapi kata-kata takut berlebihan
akhirnya kutulis namamu saja
itu sudah mewakili segalanya
di antara huruf-hurufnya
aku menyelipkan rindu
biar kau membacanya perlahan
seperti membuka pintu rumah sendiri
jika surat ini sampai padamu
tolong jangan dibalas
cukup simpan aku
di tempat paling sunyi dalam dadamu
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...