Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
aku mencintaimu
seperti hujan mencintai jalanan
tanpa ingin memiliki,
cukup jatuh, pulang, dan menghilang
di gelas kopi yang kau tinggalkan
namamu mengendap perlahan
aku meminumnya
agar rindu tidak tumpah ke mana-mana
jika suatu hari aku lupa caraku berdoa
biarlah wajahmu
menjadi satu-satunya kalimat
yang masih kuingat dengan sempurna
kau lupa kaus kakimu
di sudut kamar
ia menggulung diam-diam
seperti rindu yang malu mengaku
aku tidak memindahkannya
sebab dari sanalah
aku belajar menunggumu
tanpa suara, tanpa jadwal
barangkali cinta memang seperti itu
hadir sebagai benda sepele
yang membuat kamar
tak pernah benar-benar kosong
aku menyebut namamu
pelan-pelan
takut angin iri dan membawanya pergi
di antara detak jam dan lampu redup
namamu tumbuh
seperti doa yang enggan selesai
jika kelak dunia bertanya
apa yang paling sering kupikirkan
aku akan menjawab:
sesuatu yang selalu kusebut dengan lirih
kau meminjamkan payungmu
padahal hujan masih panjang
aku menerimanya
seperti menerima masa depan
di bawah payung itu
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu berjalan berdampingan
kadang cukup saling menjaga dari jauh
jika nanti hujan reda
kembalikan payung itu padaku
aku ingin meminjam lagi
alasan untuk bertemu
aku ingin menulis surat panjang
tapi kata-kata takut berlebihan
akhirnya kutulis namamu saja
itu sudah mewakili segalanya
di antara huruf-hurufnya
aku menyelipkan rindu
biar kau membacanya perlahan
seperti membuka pintu rumah sendiri
jika surat ini sampai padamu
tolong jangan dibalas
cukup simpan aku
di tempat paling sunyi dalam dadamu
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...