Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
aku mencintaimu
seperti hujan mencintai jalanan
tanpa ingin memiliki,
cukup jatuh, pulang, dan menghilang
di gelas kopi yang kau tinggalkan
namamu mengendap perlahan
aku meminumnya
agar rindu tidak tumpah ke mana-mana
jika suatu hari aku lupa caraku berdoa
biarlah wajahmu
menjadi satu-satunya kalimat
yang masih kuingat dengan sempurna
kau lupa kaus kakimu
di sudut kamar
ia menggulung diam-diam
seperti rindu yang malu mengaku
aku tidak memindahkannya
sebab dari sanalah
aku belajar menunggumu
tanpa suara, tanpa jadwal
barangkali cinta memang seperti itu
hadir sebagai benda sepele
yang membuat kamar
tak pernah benar-benar kosong
aku menyebut namamu
pelan-pelan
takut angin iri dan membawanya pergi
di antara detak jam dan lampu redup
namamu tumbuh
seperti doa yang enggan selesai
jika kelak dunia bertanya
apa yang paling sering kupikirkan
aku akan menjawab:
sesuatu yang selalu kusebut dengan lirih
kau meminjamkan payungmu
padahal hujan masih panjang
aku menerimanya
seperti menerima masa depan
di bawah payung itu
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu berjalan berdampingan
kadang cukup saling menjaga dari jauh
jika nanti hujan reda
kembalikan payung itu padaku
aku ingin meminjam lagi
alasan untuk bertemu
aku ingin menulis surat panjang
tapi kata-kata takut berlebihan
akhirnya kutulis namamu saja
itu sudah mewakili segalanya
di antara huruf-hurufnya
aku menyelipkan rindu
biar kau membacanya perlahan
seperti membuka pintu rumah sendiri
jika surat ini sampai padamu
tolong jangan dibalas
cukup simpan aku
di tempat paling sunyi dalam dadamu
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...