Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan dengan konsep kolaboratif lintas gagasan. Pertunjukan ini di garap oleh teman teman mahasiswa pasca sarjana program magister, program studi seni sebagai rangkaian dari ujian mata kuliah Cipta Seni Inovatif. Sebut saja nama mereka Gus Nanda, Nova Jayanthi, Kariana, Dwi Putra, Putri dan Esa. Didukung pula oleh Sintawang, Dede, Jontar dan Erwan.
Kala Rau Hindu Bali merupakan figur mitologis yang berkaitan erat dengan konsep waktu (kala), kegelapan, dan ketidakseimbangan kosmis. Kala Rau dipahami sebagai kekuatan raksasa yang muncul akibat pelanggaran tatanan kosmis, khususnya dalam kisah perebutan Tirta Amerta (air keabadian) antara para dewa (dewa) dan asura. Kala Rau menutut mitologi adalah bagian dari tubuh raksasa yang berhasil meminum Tirta Amerta sebelum kepalanya dipenggal oleh Dewa Wisnu. Karena telah meminum amerta, kepala tersebut menjadi abadi dan hidup sebagai Kala Rau. Kala Rau dipercaya sebagai penyebab terjadinya gerhana bulan.

Dalam kehidupan manusia modern, mitos ini dapat dibaca ulang sebagai cerminan terhadap kondisi jaman. Kala Rau dapat dipandang sebagai metafora dari sifat manusia yang selalu berambisi ingin memiliki segalanya, tanpa memikirkan konsekuensinya terhadap kehidupan. Fenomena gerhana bulan diterka sebagai simbol krisis ekologis, saat keserakahan menelan cahaya kesadaran dan manusia kehilangan kemampuan untuk menelisik jejak memori keindahan yang dulu ia jaga. Garapan ini berangkat dari keyakinan penggarap bahwa kesimbangan alam tak kan pulih tanpa keseimbangan batin manusia.
Pertunjukan Bulan Kepangan perentasikan dengan gaya simbolik, puitis, ritualistik dan multi tafsir yang tertuang dalam medium bahasa, suara, gerak dan rupa. Elemen seperti panggung, tubuh, cahaya, benda dan bunyi ditempatkan sebagai lambang yang merepresentasikan gagasan, lapisan makna, serta pengalaman artistik yang dibangun dalam keseluruhan struktur pertunjukan.

Bahasa pertunjukan baik yang diucapkan maupun dalam bentuk visual dan gerak tersusun seperti sajak yang bebas ditafsir seperti apa oleh penonton. Terdapat pula sifat ritualistik yang muncul dari pola pola gerak dan suasana yang menyerupai penyucian dan perenungan. Pengulangan gerak, alunan bunyi dan perubahan cahaya menjadi bentuk visual meditatif yang digunakan untuk menggiring penonton untuk masuk ke dalam ruang karya.Sebagai sebuah garapan multitafsir, perpaduan medium bahsa, suara, gerak dan rupa menjadi poros utama dalam penciptaannya.

Struktur pertunjukan Bulan Kepangan tidak disajikan dalam alur cerita yang runtut. Pementasan bergerak melalui potongan-potongan adegan yang saling bersinggungan dan membangun suasana secara bertahap. Setiap bagian menampilkan perubahan situasi melalui penataan ruang, permainan cahaya, bunyi, serta kehadiran benda-benda artistik yang digunakan dalam pertunjukan. Unsur-unsur tersebut saling mendukung dalam membentuk atmosfer yang terus berkembang sepanjang pementasan. [T]
Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...