SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Patah menjadi tiga bagian umbi gembili yang saya panen. Terbukti sudah saya gagal mewarisi kecakapan ayah saya bertani. Meski demikian, kegagalan saya tidak dibalas dengan kekecewaan. Di luar dugaan saya, hampir 7 kg (6,95 kg) bobot satu-satunya umbi gembili yang saya panen. Bukan berat bersih, tentunya. Meski tidak banyak, masih menempel tanah basah di beberapa bagian umbi gembili. Besar umbi gembili yang pernah saya panen sebelumnya, tidak melebihi besar kepalan saya.
Umbi gembili menjadi alternatif pengisi perut di masa kecil saya, selain umbi ketela pohon, umbi ketela rambat, umbi uwi (ipit/tabih) dan umbi samuan. Umbi gadung (sikapa) tidak kami jadikan alternatif karena ayah dan ibu saya tidak cakap mengolah dan menawar racun yang terkandung umbi gadung. Umbi abé pun tidak. Tumbuhan merambat abé belum saya temukan tumbuh di sekitar tempat tinggal kami. Saya temukan tumbuhan abé di ujung timur Basangalas, di lereng Bukit Lempuyang.
Putih umbi gembili mentah | Foto: Komang Berata
KBBI mencatat gembili adalah tanaman perdu merambat, tinggi mencapai 5 m, daunnya berbentuk seperti ginjal, umbinya dapat dimakan, bentuknya bulat atau bulat panjang, daging umbi berwarna putih sampai putih kekuningan. Kamus Bahasa Bali (KBB) mencatat gembili (kembili) adalah biaung, tumbuhan merambat yang ubinya dapat dimakan.
Memanen umbi gembili tidak semudah memanen umbi ketela rambat atau ketela pohon. Duri-duri sebesar bulatan pangkal lidi daun kelapa tegak menyembul sekitar 5 cm ke permukaan tanah di sekitar umbi gembili siap menggores atau melukai lembut kulit dan daging telapak tangan, juga telapak kaki. Dua bulan sebelum saya panen umbi gembili ini, kedua telapak kaki saya sempat tertusuk beberapa duri akarnya. Butuh waktu hampir sebulan agar langkah saya tidak terpincang-pincang akibat belasan luka pada kedua telapak kaki saya. Saat memanen umbi gembili ini, satu duri akarnya melukai ujung jari manis tangan kanan saya. Perihnya sangat terasa.
Lidi, duri akar, dan daun gembili di atas daun pisang | Foto: Komang Berata
Penasaran dengan duri akar di sekitar umbi gembili, saya baca KBBI mencatat duri akar adalah duri yang berasal dari akar yang mengeras, seperti duri gembili atau gembolo. Tetua kami menuturkan, duri akar di sekitar umbi gembili disebut sungga. Hingga saat ini yang saya ketahui hanya tumbuhan gembili memiliki duri akar atau sungga. KBB mencatat sungga adalah ranjau. Duri akar atau ranjau, sungga berfungsi melindungi. Sebagai duri akar, sungga melindungi umbi gembili dari ancaman hama. Sebagai ranjau, sungga melindungi ternak atau hasil pertanian dari ancaman pencuri.
Sungga yang bukan duri akar dibuat menggunakan bilah bambu atau ruyung. Dulu pada masa-masa rawan pencurian, menurut ayah saya, para petani makena sungga untuk mengamankan ternak atau hasil pertanian. Yang menginjak ranjau atau sungga disebut kena sungga. Korban baru bisa disebut kena sungga apabila yang melukainya adalah bilah bambu atau ruyung yang difungsikan sebagai ranjau. Tidak ada unsur ranjau, korban disebut tusuk tiying lanying, tusuk katik (saté), atau tusuk uyung. Tidak pernah ayah saya mengisahkan terjadinya senjata makan tuan atas makena sungga, akan tetapi senjata salah alamat pernah terjadi.
Akan halnya jika ada orang melintas di medan perang atau di tempat dulu adalah medan perang, terinjak olehnya ranjau berupa granat atau bom yang ditanam, apakah memungkinkan disebut kenasungga? Menginjak duri akar atau ranjau granat mengakibatkan tubuh terluka atau terkoyak, sangat memungkinkan korban ranjau granat disebut kena sungga. Jika korban ranjau terjebak atau terkurung, ungkapan kena jebag (jebakan) atau kena tampus (jaring) kiranya lebih mengena. Akan halnya orang yang terjebak bujuk rayu atau bujuk penipuan, lumrah disebut kena tampus.
Umbi gembili kukus | Foto: Komang Berata
Sungga berhenti hanya pada sungga. Belum pernah saya dengar kata turunan sungga, semisal nyungga. Berbeda dengan selingkad (sengkelit) yang mempunyai kata turunan nyelingkad (merintang, menghambat). [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...