Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan dengan konsep kolaboratif lintas gagasan. Pertunjukan ini di garap oleh teman teman mahasiswa pasca sarjana program magister, program studi seni sebagai rangkaian dari ujian mata kuliah Cipta Seni Inovatif. Sebut saja nama mereka Gus Nanda, Nova Jayanthi, Kariana, Dwi Putra, Putri dan Esa. Didukung pula oleh Sintawang, Dede, Jontar dan Erwan.
Kala Rau Hindu Bali merupakan figur mitologis yang berkaitan erat dengan konsep waktu (kala), kegelapan, dan ketidakseimbangan kosmis. Kala Rau dipahami sebagai kekuatan raksasa yang muncul akibat pelanggaran tatanan kosmis, khususnya dalam kisah perebutan Tirta Amerta (air keabadian) antara para dewa (dewa) dan asura. Kala Rau menutut mitologi adalah bagian dari tubuh raksasa yang berhasil meminum Tirta Amerta sebelum kepalanya dipenggal oleh Dewa Wisnu. Karena telah meminum amerta, kepala tersebut menjadi abadi dan hidup sebagai Kala Rau. Kala Rau dipercaya sebagai penyebab terjadinya gerhana bulan.

Dalam kehidupan manusia modern, mitos ini dapat dibaca ulang sebagai cerminan terhadap kondisi jaman. Kala Rau dapat dipandang sebagai metafora dari sifat manusia yang selalu berambisi ingin memiliki segalanya, tanpa memikirkan konsekuensinya terhadap kehidupan. Fenomena gerhana bulan diterka sebagai simbol krisis ekologis, saat keserakahan menelan cahaya kesadaran dan manusia kehilangan kemampuan untuk menelisik jejak memori keindahan yang dulu ia jaga. Garapan ini berangkat dari keyakinan penggarap bahwa kesimbangan alam tak kan pulih tanpa keseimbangan batin manusia.
Pertunjukan Bulan Kepangan perentasikan dengan gaya simbolik, puitis, ritualistik dan multi tafsir yang tertuang dalam medium bahasa, suara, gerak dan rupa. Elemen seperti panggung, tubuh, cahaya, benda dan bunyi ditempatkan sebagai lambang yang merepresentasikan gagasan, lapisan makna, serta pengalaman artistik yang dibangun dalam keseluruhan struktur pertunjukan.

Bahasa pertunjukan baik yang diucapkan maupun dalam bentuk visual dan gerak tersusun seperti sajak yang bebas ditafsir seperti apa oleh penonton. Terdapat pula sifat ritualistik yang muncul dari pola pola gerak dan suasana yang menyerupai penyucian dan perenungan. Pengulangan gerak, alunan bunyi dan perubahan cahaya menjadi bentuk visual meditatif yang digunakan untuk menggiring penonton untuk masuk ke dalam ruang karya.Sebagai sebuah garapan multitafsir, perpaduan medium bahsa, suara, gerak dan rupa menjadi poros utama dalam penciptaannya.

Struktur pertunjukan Bulan Kepangan tidak disajikan dalam alur cerita yang runtut. Pementasan bergerak melalui potongan-potongan adegan yang saling bersinggungan dan membangun suasana secara bertahap. Setiap bagian menampilkan perubahan situasi melalui penataan ruang, permainan cahaya, bunyi, serta kehadiran benda-benda artistik yang digunakan dalam pertunjukan. Unsur-unsur tersebut saling mendukung dalam membentuk atmosfer yang terus berkembang sepanjang pementasan. [T]
Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Jaswanto
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...