Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
SETIAP 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. SELAMAT HARI IBU — MENGHAYATI, BUKAN SEKADAR MEMPUBLISIKASI
Setiap 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. Banjir bandang dan longsor yang terjadi di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
pada akhir November hingga Desember 2025 telah menyebabkan ratusan hingga hampir seribu korban tewas, puluhan ribu jiwa hilang, dan ratus ribu hingga sekitar jutaan orang mengungsi dari rumah mereka dan musibah ini seakan menjadi kabar duka yang hingga kini belum jelas tahapan tindak lanjut dari Pemerintah, seakan justru aksi demi aksi nyata dari para relawan yang lebih konkret tampak dari awam saya memperhatikan. Alam pun punya batas kesabaran terhadap kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan, membiarkan eksploitasi tanpa etika, serta menunjukkan ketidakpedulian terhadap keseimbangan ekologis akan kembali kepada kita sebagai perih.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat.
Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat. Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Generasi digital kerap gagap antara intensi dan aksi. Kita pandai merangkai teks, mudah mengunggah foto terbaik, tetapi sering alpa memahami bahwa cinta kepada ibu adalah:
Menghormati ibu mesti lebih konkret daripada estetika postingan. Ia perlu diwujudkan dalam etika kehidupan.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat: bahwa perempuan yang melahirkan kita layak dihormati bukan hanya dengan kata, tapi tindakan; dan bahwa bumi tempat kita tumbuh layak dijaga bukan hanya dengan slogan, tapi kesadaran.
Karena ibu—yang di rumah atau yang bernama Indonesia—tak menuntut kita sempurna. Ia hanya menuntut kita bertanggung jawab.
“Selamat Hari Ibu. Semoga cinta kita tidak berhenti di bibir ucapan dan unggahan; tetapi terwujud dalam hormat yang membumi, peduli yang berkelanjutan, dan kesadaran bahwa Ibu di rumah dan Ibu Pertiwi sama-sama layak dimuliakan—setiap hari, bukan hanya hari ini” – Dewa Rhadea. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...