Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SETIAP 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. SELAMAT HARI IBU — MENGHAYATI, BUKAN SEKADAR MEMPUBLISIKASI
Setiap 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. Banjir bandang dan longsor yang terjadi di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
pada akhir November hingga Desember 2025 telah menyebabkan ratusan hingga hampir seribu korban tewas, puluhan ribu jiwa hilang, dan ratus ribu hingga sekitar jutaan orang mengungsi dari rumah mereka dan musibah ini seakan menjadi kabar duka yang hingga kini belum jelas tahapan tindak lanjut dari Pemerintah, seakan justru aksi demi aksi nyata dari para relawan yang lebih konkret tampak dari awam saya memperhatikan. Alam pun punya batas kesabaran terhadap kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan, membiarkan eksploitasi tanpa etika, serta menunjukkan ketidakpedulian terhadap keseimbangan ekologis akan kembali kepada kita sebagai perih.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat.
Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat. Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Generasi digital kerap gagap antara intensi dan aksi. Kita pandai merangkai teks, mudah mengunggah foto terbaik, tetapi sering alpa memahami bahwa cinta kepada ibu adalah:
Menghormati ibu mesti lebih konkret daripada estetika postingan. Ia perlu diwujudkan dalam etika kehidupan.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat: bahwa perempuan yang melahirkan kita layak dihormati bukan hanya dengan kata, tapi tindakan; dan bahwa bumi tempat kita tumbuh layak dijaga bukan hanya dengan slogan, tapi kesadaran.
Karena ibu—yang di rumah atau yang bernama Indonesia—tak menuntut kita sempurna. Ia hanya menuntut kita bertanggung jawab.
“Selamat Hari Ibu. Semoga cinta kita tidak berhenti di bibir ucapan dan unggahan; tetapi terwujud dalam hormat yang membumi, peduli yang berkelanjutan, dan kesadaran bahwa Ibu di rumah dan Ibu Pertiwi sama-sama layak dimuliakan—setiap hari, bukan hanya hari ini” – Dewa Rhadea. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...