‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
As Tears Go By, sebuah lagu abadi dari The Rolling Stones. Liriknya yang puitis namun melankolis bercerita tentang kesepian dan keterasingan, tentang orang-orang yang telah kehilangan kebahagiaan masa kecil yang polos dan sederhana, tentang orang-orang yang merasa semakin kesepian dan terisolasi dalam hidup seiring bertambahnya usia.
I want to hear the children sing/
All I hear is the sound/
Of rain falling on the ground/
Saya mudah tersentuh oleh lagu ini. Tema eksistensial seperti ini mudah membangkitkan emosi, terutama dengan lirik retrospektifnya yang menggetarkan yang seakan mengungkap kenangan masa lalu kita sendiri.
Lagu ini digubah dengan indah, tenang namun memikat, dimainkan dengan melodi yang lembut, menciptakan suasana nostalgia yang mendalam. Ada nada kesedihan dan penyesalan dalam liriknya, yang dinarasikan dengan emosi yang kuat dan mengharukan oleh Mick Jagger.
Meski dikenal sebagai band rock'n'roll dan blues yang garang, 'As Tears Go By' justru menunjukkan sisi lain The Stones yang vulnerable. Lagu ini adalah bukti bahwa Mick Jagger dan Keith Richards bukan hanya penulis lagu yang enerjik, tetapi juga pujangga yang peka. Dalam kancah rock 60-an/70-an yang dipenuhi eksperimen, kehadiran balada orkestral semacam ini adalah sebuah pernyataan artistik yang berani.
Aransemennya yang berfokus pada elemen akustik dan orkestrasi string, merupakan salah satu kekuatan lagu ini, karena menciptakan ritme yang nyata, seolah-olah getaran energi yang secara halus menarik kita ke alam bawah sadar. Jiwa kita terasa tercabik-cabik, merasakan keterasingan dan kesedihan atas kehilangan itu. Masa kanak-kanak yang murni, polos, dan autentik dalam diri kita berubah menjadi kerinduan yang jauh dan memilukan.
I sit and watch/ As tears go by
Lirik ini sangat menyentuh. Seperti air mata kita, ini adalah campuran kerinduan dan kesedihan atas hilangnya waktu dan kepolosan dalam perjalanan hidup yang singkat.
Bagi saya, ini adalah salah satu karya terbaik The Rolling Stones, sebuah karya reflektif yang berhasil menyentuh kedalaman emosi manusia, mengungkapkan betapa terisolasinya kita di dunia ini. Dan secara musikal, gaya mereka sungguh inventif, menciptakan aransemen yang menjadi ciri khas, membuat musik dan lagu terasa alami dan berkarakter sebagai ekspresi yang autentik. Begitulah kelebihan musisi masa lalu. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...