As Tears Go By, sebuah lagu abadi dari The Rolling Stones. Liriknya yang puitis namun melankolis bercerita tentang kesepian dan keterasingan, tentang orang-orang yang telah kehilangan kebahagiaan masa kecil yang polos dan sederhana, tentang orang-orang yang merasa semakin kesepian dan terisolasi dalam hidup seiring bertambahnya usia.
I want to hear the children sing/ All I hear is the sound/ Of rain falling on the ground/
Saya mudah tersentuh oleh lagu ini. Tema eksistensial seperti ini mudah membangkitkan emosi, terutama dengan lirik retrospektifnya yang menggetarkan yang seakan mengungkap kenangan masa lalu kita sendiri.
Lagu ini digubah dengan indah, tenang namun memikat, dimainkan dengan melodi yang lembut, menciptakan suasana nostalgia yang mendalam. Ada nada kesedihan dan penyesalan dalam liriknya, yang dinarasikan dengan emosi yang kuat dan mengharukan oleh Mick Jagger.
Meski dikenal sebagai band rock'n'roll dan blues yang garang, 'As Tears Go By' justru menunjukkan sisi lain The Stones yang vulnerable. Lagu ini adalah bukti bahwa Mick Jagger dan Keith Richards bukan hanya penulis lagu yang enerjik, tetapi juga pujangga yang peka. Dalam kancah rock 60-an/70-an yang dipenuhi eksperimen, kehadiran balada orkestral semacam ini adalah sebuah pernyataan artistik yang berani.
Aransemennya yang berfokus pada elemen akustik dan orkestrasi string, merupakan salah satu kekuatan lagu ini, karena menciptakan ritme yang nyata, seolah-olah getaran energi yang secara halus menarik kita ke alam bawah sadar. Jiwa kita terasa tercabik-cabik, merasakan keterasingan dan kesedihan atas kehilangan itu. Masa kanak-kanak yang murni, polos, dan autentik dalam diri kita berubah menjadi kerinduan yang jauh dan memilukan.
I sit and watch/ As tears go by
Lirik ini sangat menyentuh. Seperti air mata kita, ini adalah campuran kerinduan dan kesedihan atas hilangnya waktu dan kepolosan dalam perjalanan hidup yang singkat.
Bagi saya, ini adalah salah satu karya terbaik The Rolling Stones, sebuah karya reflektif yang berhasil menyentuh kedalaman emosi manusia, mengungkapkan betapa terisolasinya kita di dunia ini. Dan secara musikal, gaya mereka sungguh inventif, menciptakan aransemen yang menjadi ciri khas, membuat musik dan lagu terasa alami dan berkarakter sebagai ekspresi yang autentik. Begitulah kelebihan musisi masa lalu. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...