Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
As Tears Go By, sebuah lagu abadi dari The Rolling Stones. Liriknya yang puitis namun melankolis bercerita tentang kesepian dan keterasingan, tentang orang-orang yang telah kehilangan kebahagiaan masa kecil yang polos dan sederhana, tentang orang-orang yang merasa semakin kesepian dan terisolasi dalam hidup seiring bertambahnya usia.
I want to hear the children sing/
All I hear is the sound/
Of rain falling on the ground/
Saya mudah tersentuh oleh lagu ini. Tema eksistensial seperti ini mudah membangkitkan emosi, terutama dengan lirik retrospektifnya yang menggetarkan yang seakan mengungkap kenangan masa lalu kita sendiri.
Lagu ini digubah dengan indah, tenang namun memikat, dimainkan dengan melodi yang lembut, menciptakan suasana nostalgia yang mendalam. Ada nada kesedihan dan penyesalan dalam liriknya, yang dinarasikan dengan emosi yang kuat dan mengharukan oleh Mick Jagger.
Meski dikenal sebagai band rock'n'roll dan blues yang garang, 'As Tears Go By' justru menunjukkan sisi lain The Stones yang vulnerable. Lagu ini adalah bukti bahwa Mick Jagger dan Keith Richards bukan hanya penulis lagu yang enerjik, tetapi juga pujangga yang peka. Dalam kancah rock 60-an/70-an yang dipenuhi eksperimen, kehadiran balada orkestral semacam ini adalah sebuah pernyataan artistik yang berani.
Aransemennya yang berfokus pada elemen akustik dan orkestrasi string, merupakan salah satu kekuatan lagu ini, karena menciptakan ritme yang nyata, seolah-olah getaran energi yang secara halus menarik kita ke alam bawah sadar. Jiwa kita terasa tercabik-cabik, merasakan keterasingan dan kesedihan atas kehilangan itu. Masa kanak-kanak yang murni, polos, dan autentik dalam diri kita berubah menjadi kerinduan yang jauh dan memilukan.
I sit and watch/ As tears go by
Lirik ini sangat menyentuh. Seperti air mata kita, ini adalah campuran kerinduan dan kesedihan atas hilangnya waktu dan kepolosan dalam perjalanan hidup yang singkat.
Bagi saya, ini adalah salah satu karya terbaik The Rolling Stones, sebuah karya reflektif yang berhasil menyentuh kedalaman emosi manusia, mengungkapkan betapa terisolasinya kita di dunia ini. Dan secara musikal, gaya mereka sungguh inventif, menciptakan aransemen yang menjadi ciri khas, membuat musik dan lagu terasa alami dan berkarakter sebagai ekspresi yang autentik. Begitulah kelebihan musisi masa lalu. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...