Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
MALAM itu Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta terasa teduh. Gending pembuka berkumandang, yaitu lancaran garap irama tanggung, laras pelog pathet nem mengalir halus dari Kelompok Karawitan LPP RRI Surakarta. Bunyi gamelan yang ngrangin menyebar seperti angin sejuk yang melintas di antara kursi-kursi. MC membacakan daftar pemain dan pendukung acara dalam bahasa Jawa, dan suasana yang hangat langsung menyambut penonton.

Gedung tampak proporsional. Kursi nyaman, tata suara tertata baik, dan malam itu ruangan terisi penuh. Demografi penonton merata: anak-anak, remaja, hingga orang tua hadir dengan antusias.
Panggung dibuka dengan monolog Sengkuni, yang diperankan dalam dua rupa sekaligus: Harya Suman muda dan Sengkuni tua yang penuh siasat. Pembukaan yang cerdik ini menjadi pintu masuk bagi intrik Ngastina yang mewarnai lakon “Sepi Pamrih Rame Gawe”.
Cerita berlatar Baratayuda. Kurawa, dipandu kelicikan Sengkuni, mencoba menekan Pandawa. Para sesepuh Pandawa kemudian mengangkat Gathutkaca sebagai maha senopati Amarta. Keputusan ini melukai perasaan Antareja, saudara tua Gathutkaca, yang merasa suara generasi muda tidak didengar. Ia menarik diri dari urusan negara, bukan karena lemah, tetapi karena kecewa.
Sementara itu, Kurawa mengirim Boma Naraka Sura sebagai senopati agung. Pertempuran antara Gathutkaca dan Boma berlangsung dahsyat. Gathutkaca sempat unggul berkat topeng waja, tetapi kelemahan pusaka itu dibongkar oleh Sengkuni, membuat sang ksatria muda roboh.


Di Sapta Bumi, Antareja membuka perasaannya kepada Nagagini, ibunya. Kedatangan Antasena menjadi penyeimbang, menyadarkan bahwa laku ksatria bukan menuntut penghargaan, melainkan menjaga kelangsungan dharma. Dengan restu ibunya, Antareja kembali ke medan perang dan mengalahkan Boma Naraka Sura, menyelamatkan Amarta.
Seusai kemenangan itu, Pandawa hendak mengangkatnya sebagai maha senopati. Antareja menolak dengan halus. Ia bekerja demi kebenaran, bukan demi pangkat. Pesan ini menjadi inti lakon: sepi pamrih rame gawe, laku iklas, tanpa mengharap sorotan. Sutradara menutup cerita dengan kejutan kecil yang menggelitik: Antasena menghukum Sengkuni dengan menyanyi “menthog-menthog”, membuat seluruh auditorium pecah dalam tawa. Sebuah permainan manis yang mengendurkan ketegangan lakon.
Sejak babak awal, kualitas penari tampak matang. Gerak halus bertemu tegas, dialog mengalir, dan keberanian mereka memainkan ritme membuat tubuh-tubuh di panggung terasa hidup. Gerak kelompok terjalin padu, seperti satu organisme besar yang bernapas serempak.
Punakawan menjadi jembatan cair antara panggung dan penonton. Adegan spontan, celetukan kecil, dan respons penonton yang hangat menciptakan ruang sosial yang penuh keakraban. Hubungan antara penari dan pengrawit pun memberi energi tersendiri. Ada momen ketika satu gerak kecil dijawab oleh pengendang, atau sebaliknya. Pertemuan spontan seperti ini hanya mungkin terjadi ketika kedua pihak saling percaya dan telah lama berbagi napas dalam proses latihan.
Di tengah kepaduan penari, pengrawit, dan dalang, ada satu elemen yang terasa mengganggu: layar LED besar di belakang panggung. Visual hutan, istana, langit, dan motif digital bergerak terus-menerus, memantulkan cahaya yang menenggelamkan rias dan mengaburkan ekspresi. Warna mencolok itu menarik perhatian dari tubuh yang sedang bekerja, dari gestur kecil yang justru menjadi kekuatan wayang wong.

Fasilitas gedung dan kualitas pementasan malam itu sebenarnya sangat baik. Karena itu terasa sayang melihat LED dan tata cahaya yang belum terkelola justru menutupi kualitas utama pertunjukan. Panggung kehilangan sebagian ketenangannya, dan penonton kehilangan kesempatan merawat imajinasi mereka sendiri.
Penggunaan teknologi tinggi dalam pertunjukan tradisi memerlukan pertimbangan yang matang. Bagaimana setiap unsur baru ditempatkan agar tetap selaras dengan ruang yang sejak dulu hidup. Kompromi kreatif menjadi jalan tengah yang penting. Perlu dipilih dengan cermat: warna yang lebih lembut, visual yang tidak mendominasi, cahaya yang mengikut gerak penari, bukan sebaliknya. Jika perlu, kolaborasi dengan penata visual khusus dapat membantu merumuskan konsep yang mendukung, bukan mengganggu.


Wayang wong telah melewati banyak zaman dengan kekuatannya sendiri. Adaptasi ke bentuk-bentuk baru tetap mungkin dilakukan, selama dilakukan dengan kepekaan terhadap karakter dasarnya. Dengan pendekatan seperti itu, teknologi justru dapat menjadi penopang, bukan pusat perhatian yang merampas ruang. [T]
Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...