Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
MALAM itu Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta terasa teduh. Gending pembuka berkumandang, yaitu lancaran garap irama tanggung, laras pelog pathet nem mengalir halus dari Kelompok Karawitan LPP RRI Surakarta. Bunyi gamelan yang ngrangin menyebar seperti angin sejuk yang melintas di antara kursi-kursi. MC membacakan daftar pemain dan pendukung acara dalam bahasa Jawa, dan suasana yang hangat langsung menyambut penonton.

Gedung tampak proporsional. Kursi nyaman, tata suara tertata baik, dan malam itu ruangan terisi penuh. Demografi penonton merata: anak-anak, remaja, hingga orang tua hadir dengan antusias.
Panggung dibuka dengan monolog Sengkuni, yang diperankan dalam dua rupa sekaligus: Harya Suman muda dan Sengkuni tua yang penuh siasat. Pembukaan yang cerdik ini menjadi pintu masuk bagi intrik Ngastina yang mewarnai lakon “Sepi Pamrih Rame Gawe”.
Cerita berlatar Baratayuda. Kurawa, dipandu kelicikan Sengkuni, mencoba menekan Pandawa. Para sesepuh Pandawa kemudian mengangkat Gathutkaca sebagai maha senopati Amarta. Keputusan ini melukai perasaan Antareja, saudara tua Gathutkaca, yang merasa suara generasi muda tidak didengar. Ia menarik diri dari urusan negara, bukan karena lemah, tetapi karena kecewa.
Sementara itu, Kurawa mengirim Boma Naraka Sura sebagai senopati agung. Pertempuran antara Gathutkaca dan Boma berlangsung dahsyat. Gathutkaca sempat unggul berkat topeng waja, tetapi kelemahan pusaka itu dibongkar oleh Sengkuni, membuat sang ksatria muda roboh.


Di Sapta Bumi, Antareja membuka perasaannya kepada Nagagini, ibunya. Kedatangan Antasena menjadi penyeimbang, menyadarkan bahwa laku ksatria bukan menuntut penghargaan, melainkan menjaga kelangsungan dharma. Dengan restu ibunya, Antareja kembali ke medan perang dan mengalahkan Boma Naraka Sura, menyelamatkan Amarta.
Seusai kemenangan itu, Pandawa hendak mengangkatnya sebagai maha senopati. Antareja menolak dengan halus. Ia bekerja demi kebenaran, bukan demi pangkat. Pesan ini menjadi inti lakon: sepi pamrih rame gawe, laku iklas, tanpa mengharap sorotan. Sutradara menutup cerita dengan kejutan kecil yang menggelitik: Antasena menghukum Sengkuni dengan menyanyi “menthog-menthog”, membuat seluruh auditorium pecah dalam tawa. Sebuah permainan manis yang mengendurkan ketegangan lakon.
Sejak babak awal, kualitas penari tampak matang. Gerak halus bertemu tegas, dialog mengalir, dan keberanian mereka memainkan ritme membuat tubuh-tubuh di panggung terasa hidup. Gerak kelompok terjalin padu, seperti satu organisme besar yang bernapas serempak.
Punakawan menjadi jembatan cair antara panggung dan penonton. Adegan spontan, celetukan kecil, dan respons penonton yang hangat menciptakan ruang sosial yang penuh keakraban. Hubungan antara penari dan pengrawit pun memberi energi tersendiri. Ada momen ketika satu gerak kecil dijawab oleh pengendang, atau sebaliknya. Pertemuan spontan seperti ini hanya mungkin terjadi ketika kedua pihak saling percaya dan telah lama berbagi napas dalam proses latihan.
Di tengah kepaduan penari, pengrawit, dan dalang, ada satu elemen yang terasa mengganggu: layar LED besar di belakang panggung. Visual hutan, istana, langit, dan motif digital bergerak terus-menerus, memantulkan cahaya yang menenggelamkan rias dan mengaburkan ekspresi. Warna mencolok itu menarik perhatian dari tubuh yang sedang bekerja, dari gestur kecil yang justru menjadi kekuatan wayang wong.

Fasilitas gedung dan kualitas pementasan malam itu sebenarnya sangat baik. Karena itu terasa sayang melihat LED dan tata cahaya yang belum terkelola justru menutupi kualitas utama pertunjukan. Panggung kehilangan sebagian ketenangannya, dan penonton kehilangan kesempatan merawat imajinasi mereka sendiri.
Penggunaan teknologi tinggi dalam pertunjukan tradisi memerlukan pertimbangan yang matang. Bagaimana setiap unsur baru ditempatkan agar tetap selaras dengan ruang yang sejak dulu hidup. Kompromi kreatif menjadi jalan tengah yang penting. Perlu dipilih dengan cermat: warna yang lebih lembut, visual yang tidak mendominasi, cahaya yang mengikut gerak penari, bukan sebaliknya. Jika perlu, kolaborasi dengan penata visual khusus dapat membantu merumuskan konsep yang mendukung, bukan mengganggu.


Wayang wong telah melewati banyak zaman dengan kekuatannya sendiri. Adaptasi ke bentuk-bentuk baru tetap mungkin dilakukan, selama dilakukan dengan kepekaan terhadap karakter dasarnya. Dengan pendekatan seperti itu, teknologi justru dapat menjadi penopang, bukan pusat perhatian yang merampas ruang. [T]
Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...