Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MALAM itu Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta terasa teduh. Gending pembuka berkumandang, yaitu lancaran garap irama tanggung, laras pelog pathet nem mengalir halus dari Kelompok Karawitan LPP RRI Surakarta. Bunyi gamelan yang ngrangin menyebar seperti angin sejuk yang melintas di antara kursi-kursi. MC membacakan daftar pemain dan pendukung acara dalam bahasa Jawa, dan suasana yang hangat langsung menyambut penonton.

Gedung tampak proporsional. Kursi nyaman, tata suara tertata baik, dan malam itu ruangan terisi penuh. Demografi penonton merata: anak-anak, remaja, hingga orang tua hadir dengan antusias.
Panggung dibuka dengan monolog Sengkuni, yang diperankan dalam dua rupa sekaligus: Harya Suman muda dan Sengkuni tua yang penuh siasat. Pembukaan yang cerdik ini menjadi pintu masuk bagi intrik Ngastina yang mewarnai lakon “Sepi Pamrih Rame Gawe”.
Cerita berlatar Baratayuda. Kurawa, dipandu kelicikan Sengkuni, mencoba menekan Pandawa. Para sesepuh Pandawa kemudian mengangkat Gathutkaca sebagai maha senopati Amarta. Keputusan ini melukai perasaan Antareja, saudara tua Gathutkaca, yang merasa suara generasi muda tidak didengar. Ia menarik diri dari urusan negara, bukan karena lemah, tetapi karena kecewa.
Sementara itu, Kurawa mengirim Boma Naraka Sura sebagai senopati agung. Pertempuran antara Gathutkaca dan Boma berlangsung dahsyat. Gathutkaca sempat unggul berkat topeng waja, tetapi kelemahan pusaka itu dibongkar oleh Sengkuni, membuat sang ksatria muda roboh.


Di Sapta Bumi, Antareja membuka perasaannya kepada Nagagini, ibunya. Kedatangan Antasena menjadi penyeimbang, menyadarkan bahwa laku ksatria bukan menuntut penghargaan, melainkan menjaga kelangsungan dharma. Dengan restu ibunya, Antareja kembali ke medan perang dan mengalahkan Boma Naraka Sura, menyelamatkan Amarta.
Seusai kemenangan itu, Pandawa hendak mengangkatnya sebagai maha senopati. Antareja menolak dengan halus. Ia bekerja demi kebenaran, bukan demi pangkat. Pesan ini menjadi inti lakon: sepi pamrih rame gawe, laku iklas, tanpa mengharap sorotan. Sutradara menutup cerita dengan kejutan kecil yang menggelitik: Antasena menghukum Sengkuni dengan menyanyi “menthog-menthog”, membuat seluruh auditorium pecah dalam tawa. Sebuah permainan manis yang mengendurkan ketegangan lakon.
Sejak babak awal, kualitas penari tampak matang. Gerak halus bertemu tegas, dialog mengalir, dan keberanian mereka memainkan ritme membuat tubuh-tubuh di panggung terasa hidup. Gerak kelompok terjalin padu, seperti satu organisme besar yang bernapas serempak.
Punakawan menjadi jembatan cair antara panggung dan penonton. Adegan spontan, celetukan kecil, dan respons penonton yang hangat menciptakan ruang sosial yang penuh keakraban. Hubungan antara penari dan pengrawit pun memberi energi tersendiri. Ada momen ketika satu gerak kecil dijawab oleh pengendang, atau sebaliknya. Pertemuan spontan seperti ini hanya mungkin terjadi ketika kedua pihak saling percaya dan telah lama berbagi napas dalam proses latihan.
Di tengah kepaduan penari, pengrawit, dan dalang, ada satu elemen yang terasa mengganggu: layar LED besar di belakang panggung. Visual hutan, istana, langit, dan motif digital bergerak terus-menerus, memantulkan cahaya yang menenggelamkan rias dan mengaburkan ekspresi. Warna mencolok itu menarik perhatian dari tubuh yang sedang bekerja, dari gestur kecil yang justru menjadi kekuatan wayang wong.

Fasilitas gedung dan kualitas pementasan malam itu sebenarnya sangat baik. Karena itu terasa sayang melihat LED dan tata cahaya yang belum terkelola justru menutupi kualitas utama pertunjukan. Panggung kehilangan sebagian ketenangannya, dan penonton kehilangan kesempatan merawat imajinasi mereka sendiri.
Penggunaan teknologi tinggi dalam pertunjukan tradisi memerlukan pertimbangan yang matang. Bagaimana setiap unsur baru ditempatkan agar tetap selaras dengan ruang yang sejak dulu hidup. Kompromi kreatif menjadi jalan tengah yang penting. Perlu dipilih dengan cermat: warna yang lebih lembut, visual yang tidak mendominasi, cahaya yang mengikut gerak penari, bukan sebaliknya. Jika perlu, kolaborasi dengan penata visual khusus dapat membantu merumuskan konsep yang mendukung, bukan mengganggu.


Wayang wong telah melewati banyak zaman dengan kekuatannya sendiri. Adaptasi ke bentuk-bentuk baru tetap mungkin dilakukan, selama dilakukan dengan kepekaan terhadap karakter dasarnya. Dengan pendekatan seperti itu, teknologi justru dapat menjadi penopang, bukan pusat perhatian yang merampas ruang. [T]
Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...