Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan intelektual, tetapi sebagai cara untuk memb...
Samudra adalah laut yang luas, yang tak terjangkau oleh pandangan manusia telanjang. Laut adalah sisi luar daratan yang berair. Daratan adalah tempat manusia, binatang, pohon umumnya hidup dan menjalani kehidupan.
Udara adalah energi yang mengisi pernafasan mahluk yang membuatnya hidup.
Dalam filsafat Hindu di Bali, Daratan, Lautan dan segala yang segala yang ada di dalamnya di sebut bumi, dikenal dengan sebutan Ibu Bumi dan tanahnya disebut Ibu Pertiwi.
Ruang kosong pada segala sesuatu disebut Akasa.
Udara yang mengisi ruang kosong, dan menghidupi segala sesuatu sehingga berjiwa disebut sebagai Bapa Akasa.
Persatuan Ibu Bumi/Pertiwi dengan Bapa Akasa disebut sebagai Sanghyang Jagat Karena (Yang Menjadi Penyebab Alam Semesta).
Dalam buana alit (mikrokosmos) bisa disejajarkan dengan persatuan laki dan perempuan yang menjadi penyebab alam keluarga.
Mahluk hidup, khususnya manusia jarang yang mau dan bisa belajar dari dirinya sendiri. Mungkin itu sebabnya para ilmuwan memakai hewan kelinci, tikus sebagai media percobaan untuk mendapatkan pengetahuan sebelum dipraktekan pada manusia.
Seorang yang "Malianin" (Maalih-alihan/melakukan percobaan) dalam masyarakat tradisional biasanya memakai tubuhnya sendiri sebagai media percobaan dan memakai laut dan kehidupan di laut sebagai sarana bercermin, berkaca, membaca, dan memahami diri.
Dari pemahaman tentang diri, diharapkan yang bersangkutan akan memahami orang lain (mahluk lain) yang bersifat lebih luas dan beragam.
Samudra/ lautan kerap dipakai oleh para pendeta/para suci leluhur Bali, Nuasantara untuk belajar. Pada Lautan, air yang memantulkan energi kita bisa belajar, membaca, berkaca untuk mengenali dan diri, yang lain.
Energi matahari adalah manifestasi Tuhan yang bisa kita kenali, lihat, rasakan dan pahami.
Sinar adalah bentuk lahir yang bisa dilihat. Energi adalah bentuk batin yang tak terlihat. Mata yang melihat menciptakan warna, bentuk dan rupa. Lidah yang mencecap memciptakan perbedaan rasa: pahit, asin, manis, asam, gurih, sepat, dan ambar.
Samudra adalah material air yang terlihat, teraba, tersentuh, tercium, terasa (panca indria) bagian dari bumi, Ibu Pertiwi.
Energi matahari adalah udara yang bersifat non material yang memiliki kekuatan, daya dan frekwensi, yang memberi jiwa pada ruang, bagian dari energi/jiwa semesta, bapa Angkasa
Pertemuan, energi matahari dan air samudra mencipta mahluk hidup (berjiwa) dan material berjiwa, berupa, berwarna, berbentuk, berasa, berguna, bermakna dan berahasia. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan intelektual, tetapi sebagai cara untuk memb...
“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya yang sayu. “Bagaimana” tanyaku, menc...
JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja, milik seorang sahabat. Ternyata, di lokasi tersebut sedang...
ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah disediakan, dan seremoni telah dilaksan...
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai ruang kontemplasi...
SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan yang menjadi wadah pengembangan intelektual da...
Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pe...
TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendid...
TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan para siswanya. Itu yang saya rasakan dulu. Entah k...
Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu halaman, merapikan sesuatu, membantu t...