JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja, milik seorang sahabat. Ternyata, di lokasi tersebut sedang berlangsung diskusi publik bertema pendidikan. Suasana kafe tampak ramai oleh mahasiswa yang antusias mengikuti jalannya diskusi bersama Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, membahas pendidikan di Kota Singaraja yang dikenal sebagai Kota Pendidikan.
Diiringi gerimis, diskusi tetap berlangsung hangat. Acara dipandu oleh seorang Presiden. Ia Presiden Mahasiswa BEM Rema Undiksha, I Wayan Reka Ningcaya. Hadir pula akademisi yang aktif di dunia kepemudaan dan pendidikan kesetaraan, Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, dosen muda Undiksha. Kesan yang terasa begitu berbeda—tanpa formalitas berlebihan.
Acara dibuka sederhana oleh mahasiswa yang ditunjuk jadi MC. Tanpa sambutan panjang ataupun seremoni seperti pengalungan bunga yang kerap terlihat dalam acara resmi. Tidak tampak jarak antara anggota dewan dengan mahasiswa.
Pemandangan seperti ini jarang saya lihat: Ketua DPRD hadir dalam diskusi sederhana tanpa seremoni. Moderator pun langsung memulai dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar pendidikan di Buleleng. Ketut Ngurah Arya terlihat mampu menjawab satu per satu pertanyaan dengan lugas.
Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya
Di awal, ia menyampaikan bahwa kehadirannya adalah untuk mendengar dan menerima aspirasi mahasiswa. Legislator dari Dapil Gerokgak ini juga menjelaskan pandangannya mengenai kondisi pendidikan di Buleleng. Ia mengakui masih banyak persoalan, mulai dari infrastruktur, kurangnya tenaga pendidik, hingga fakta bahwa masih ada anak-anak sekolah yang belum bisa membaca. Ia juga memaparkan keterbatasan APBD Buleleng yang membuat penanganan masalah harus dilakukan secara bertahap.
Peserta diskusi tampak antusias. Mereka tidak segan mengajukan pertanyaan dan kritik terhadap program-program pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada sektor pendidikan. Seorang mahasiswi dari Jurusan Hukum Undiksha, misalnya, mengungkapkan keheranannya:
“Saya apresiasi upaya pemerintah dalam menata wajah kota. Tapi katanya Buleleng kekurangan anggaran, lalu apa urgensinya membangun titik nol, Pak?” ujarnya serius.
Menanggapi itu, Ketua DPRD berdiri dan menjelaskan alasan persetujuan pembangunan titik nol. Ia memaparkan satu per satu, termasuk tujuan untuk mendorong pariwisata di Buleleng yang diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan daerah.
Suasana diskusi
Mahasiswi tersebut kembali menimpali dengan mempertanyakan seberapa pasti peningkatan kunjungan wisatawan setelah pembangunan selesai. Pertanyaan itu pun dijawab kembali dengan lugas oleh Ngurah Arya.Saya sendiri ikut terbawa suasana diskusi.
Tak terasa kopi yang saya pesan menjadi dingin, padahal baru sekali saya seruput. Begitu menariknya percakapan yang berlangsung. Banyak gagasan, kritik, dan harapan yang disampaikan. Para mahasiswa berani mengungkapkan pandangan mereka, sementara Ketua DPRD menunjukkan keberanian untuk hadir dan mendengar.
Para pemeateri dan peserta diskusi
Entah akan sejauh apa gagasan-gagasan itu terealisasi. Memperingati hari Pendidikan 2 Mei 2026, jelas diskusi itu menjadi ruang belajar yang baik—bagi mahasiswa, juga bagi saya. Semoga juga bagi para pemangku kebijakan, agar lebih sering turun, duduk bersama, dan berdiskusi di ruang-ruang kecil tanpa seremoni yang kerap menjadi sekat. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...