Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
BALI kini seperti tak pernah benar-benar tidur dari dentuman panggung musik. Hampir setiap pekan ada saja festival atau konser digelar, dari promotor besar hingga acara skala sekolah dan kampus, semua berlomba mengadakan konser yang ciamik. Di permukaan ini terlihat menggembirakan karena kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan ruang ekspresi kian meluas. Tetapi di balik euforia itu, ada satu hal yang justru terasa semakin memudar, yaitu kepercayaan.
Beberapa insiden belakangan menjadi indikator jelas bahwa antusiasme penyelenggara tidak selalu diiringi profesionalisme. Seperti baru-baru ini, ada kasus musisi yang melempar mikrofon karena sound system kacau, ada musisi yang terpaksa tampil tanpa formasi lengkap karena panggung tidak siap, bahkan ada festival besar ditinggalkan para pengisi acaranya akibat persoalan sponsor yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama, manajemen lemah dan komunikasi yang buruk dari pihak penyelenggara.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada konser komersial. Di level sekolah dan kampus, semangat mengadakan konser kerap tidak diimbangi kemampuan teknis dan tanggung jawab. Tidak sedikit konser-konser itu berakhir dengan pembatalan mendadak, penundaan tanpa kejelasan, atau bahkan kecurigaan publik karena tiket sudah terjual tetapi acara tak pernah terjadi. Di titik ini, penonton mulai menyadari bahwa membeli tiket bukan sekadar transaksi hiburan, melainkan taruhan kepercayaan.
Kepercayaan publik kini menjadi sesuatu yang paling mahal dalam industri event. Sekali penonton merasa dikecewakan, mereka tak segan membatalkan niat datang, bahkan lebih jauh, mereka mulai menelusuri siapa promotornya, bagaimana reputasinya, dan apakah penyelenggara punya rekam jejak bersih atau penuh drama. Bali boleh dipenuhi panggung musik, tetapi tanpa profesionalisme dan transparansi, semua kemeriahan itu hanya akan menyisakan riuh tanpa makna.
Sebagai wilayah dengan budaya dan pariwisata bereputasi, Bali tidak bisa membiarkan berbagai event jatuh menjadi sekadar pesta yang dikelola serampangan. Karena bisa saja, hal tersebut merusak citra Bali sendiri. Konser musik seharusnya mampu menjadi ruang hiburan untuk masyarakat, bukan ajang untung-rugi sepihak. Ketika penyelenggara abai pada detail, publik berhak bersikap lebih kritis. Meskipun uang tiket bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan dalam sekejap.
Kini, saat konser semakin banyak, tugas masyarakat bukan hanya membeli tiket dan bersorak di depan panggung. Tugasnya kini adalah mampu memilih dengan sadar, mendukung yang berintegritas, dan menolak konser yang menjadikan euforia palsu sebagai kedok ketidaksiapan. Sebab industri musik yang sehat bukan hanya dibangun oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di depan panggung dengan nalar yang tidak mudah diperdaya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...