Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
BALI kini seperti tak pernah benar-benar tidur dari dentuman panggung musik. Hampir setiap pekan ada saja festival atau konser digelar, dari promotor besar hingga acara skala sekolah dan kampus, semua berlomba mengadakan konser yang ciamik. Di permukaan ini terlihat menggembirakan karena kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan ruang ekspresi kian meluas. Tetapi di balik euforia itu, ada satu hal yang justru terasa semakin memudar, yaitu kepercayaan.
Beberapa insiden belakangan menjadi indikator jelas bahwa antusiasme penyelenggara tidak selalu diiringi profesionalisme. Seperti baru-baru ini, ada kasus musisi yang melempar mikrofon karena sound system kacau, ada musisi yang terpaksa tampil tanpa formasi lengkap karena panggung tidak siap, bahkan ada festival besar ditinggalkan para pengisi acaranya akibat persoalan sponsor yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama, manajemen lemah dan komunikasi yang buruk dari pihak penyelenggara.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada konser komersial. Di level sekolah dan kampus, semangat mengadakan konser kerap tidak diimbangi kemampuan teknis dan tanggung jawab. Tidak sedikit konser-konser itu berakhir dengan pembatalan mendadak, penundaan tanpa kejelasan, atau bahkan kecurigaan publik karena tiket sudah terjual tetapi acara tak pernah terjadi. Di titik ini, penonton mulai menyadari bahwa membeli tiket bukan sekadar transaksi hiburan, melainkan taruhan kepercayaan.
Kepercayaan publik kini menjadi sesuatu yang paling mahal dalam industri event. Sekali penonton merasa dikecewakan, mereka tak segan membatalkan niat datang, bahkan lebih jauh, mereka mulai menelusuri siapa promotornya, bagaimana reputasinya, dan apakah penyelenggara punya rekam jejak bersih atau penuh drama. Bali boleh dipenuhi panggung musik, tetapi tanpa profesionalisme dan transparansi, semua kemeriahan itu hanya akan menyisakan riuh tanpa makna.
Sebagai wilayah dengan budaya dan pariwisata bereputasi, Bali tidak bisa membiarkan berbagai event jatuh menjadi sekadar pesta yang dikelola serampangan. Karena bisa saja, hal tersebut merusak citra Bali sendiri. Konser musik seharusnya mampu menjadi ruang hiburan untuk masyarakat, bukan ajang untung-rugi sepihak. Ketika penyelenggara abai pada detail, publik berhak bersikap lebih kritis. Meskipun uang tiket bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan dalam sekejap.
Kini, saat konser semakin banyak, tugas masyarakat bukan hanya membeli tiket dan bersorak di depan panggung. Tugasnya kini adalah mampu memilih dengan sadar, mendukung yang berintegritas, dan menolak konser yang menjadikan euforia palsu sebagai kedok ketidaksiapan. Sebab industri musik yang sehat bukan hanya dibangun oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di depan panggung dengan nalar yang tidak mudah diperdaya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...