Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
BALI kini seperti tak pernah benar-benar tidur dari dentuman panggung musik. Hampir setiap pekan ada saja festival atau konser digelar, dari promotor besar hingga acara skala sekolah dan kampus, semua berlomba mengadakan konser yang ciamik. Di permukaan ini terlihat menggembirakan karena kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan ruang ekspresi kian meluas. Tetapi di balik euforia itu, ada satu hal yang justru terasa semakin memudar, yaitu kepercayaan.
Beberapa insiden belakangan menjadi indikator jelas bahwa antusiasme penyelenggara tidak selalu diiringi profesionalisme. Seperti baru-baru ini, ada kasus musisi yang melempar mikrofon karena sound system kacau, ada musisi yang terpaksa tampil tanpa formasi lengkap karena panggung tidak siap, bahkan ada festival besar ditinggalkan para pengisi acaranya akibat persoalan sponsor yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama, manajemen lemah dan komunikasi yang buruk dari pihak penyelenggara.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada konser komersial. Di level sekolah dan kampus, semangat mengadakan konser kerap tidak diimbangi kemampuan teknis dan tanggung jawab. Tidak sedikit konser-konser itu berakhir dengan pembatalan mendadak, penundaan tanpa kejelasan, atau bahkan kecurigaan publik karena tiket sudah terjual tetapi acara tak pernah terjadi. Di titik ini, penonton mulai menyadari bahwa membeli tiket bukan sekadar transaksi hiburan, melainkan taruhan kepercayaan.
Kepercayaan publik kini menjadi sesuatu yang paling mahal dalam industri event. Sekali penonton merasa dikecewakan, mereka tak segan membatalkan niat datang, bahkan lebih jauh, mereka mulai menelusuri siapa promotornya, bagaimana reputasinya, dan apakah penyelenggara punya rekam jejak bersih atau penuh drama. Bali boleh dipenuhi panggung musik, tetapi tanpa profesionalisme dan transparansi, semua kemeriahan itu hanya akan menyisakan riuh tanpa makna.
Sebagai wilayah dengan budaya dan pariwisata bereputasi, Bali tidak bisa membiarkan berbagai event jatuh menjadi sekadar pesta yang dikelola serampangan. Karena bisa saja, hal tersebut merusak citra Bali sendiri. Konser musik seharusnya mampu menjadi ruang hiburan untuk masyarakat, bukan ajang untung-rugi sepihak. Ketika penyelenggara abai pada detail, publik berhak bersikap lebih kritis. Meskipun uang tiket bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan dalam sekejap.
Kini, saat konser semakin banyak, tugas masyarakat bukan hanya membeli tiket dan bersorak di depan panggung. Tugasnya kini adalah mampu memilih dengan sadar, mendukung yang berintegritas, dan menolak konser yang menjadikan euforia palsu sebagai kedok ketidaksiapan. Sebab industri musik yang sehat bukan hanya dibangun oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di depan panggung dengan nalar yang tidak mudah diperdaya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...