Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
BALI kini seperti tak pernah benar-benar tidur dari dentuman panggung musik. Hampir setiap pekan ada saja festival atau konser digelar, dari promotor besar hingga acara skala sekolah dan kampus, semua berlomba mengadakan konser yang ciamik. Di permukaan ini terlihat menggembirakan karena kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan ruang ekspresi kian meluas. Tetapi di balik euforia itu, ada satu hal yang justru terasa semakin memudar, yaitu kepercayaan.
Beberapa insiden belakangan menjadi indikator jelas bahwa antusiasme penyelenggara tidak selalu diiringi profesionalisme. Seperti baru-baru ini, ada kasus musisi yang melempar mikrofon karena sound system kacau, ada musisi yang terpaksa tampil tanpa formasi lengkap karena panggung tidak siap, bahkan ada festival besar ditinggalkan para pengisi acaranya akibat persoalan sponsor yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama, manajemen lemah dan komunikasi yang buruk dari pihak penyelenggara.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada konser komersial. Di level sekolah dan kampus, semangat mengadakan konser kerap tidak diimbangi kemampuan teknis dan tanggung jawab. Tidak sedikit konser-konser itu berakhir dengan pembatalan mendadak, penundaan tanpa kejelasan, atau bahkan kecurigaan publik karena tiket sudah terjual tetapi acara tak pernah terjadi. Di titik ini, penonton mulai menyadari bahwa membeli tiket bukan sekadar transaksi hiburan, melainkan taruhan kepercayaan.
Kepercayaan publik kini menjadi sesuatu yang paling mahal dalam industri event. Sekali penonton merasa dikecewakan, mereka tak segan membatalkan niat datang, bahkan lebih jauh, mereka mulai menelusuri siapa promotornya, bagaimana reputasinya, dan apakah penyelenggara punya rekam jejak bersih atau penuh drama. Bali boleh dipenuhi panggung musik, tetapi tanpa profesionalisme dan transparansi, semua kemeriahan itu hanya akan menyisakan riuh tanpa makna.
Sebagai wilayah dengan budaya dan pariwisata bereputasi, Bali tidak bisa membiarkan berbagai event jatuh menjadi sekadar pesta yang dikelola serampangan. Karena bisa saja, hal tersebut merusak citra Bali sendiri. Konser musik seharusnya mampu menjadi ruang hiburan untuk masyarakat, bukan ajang untung-rugi sepihak. Ketika penyelenggara abai pada detail, publik berhak bersikap lebih kritis. Meskipun uang tiket bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan dalam sekejap.
Kini, saat konser semakin banyak, tugas masyarakat bukan hanya membeli tiket dan bersorak di depan panggung. Tugasnya kini adalah mampu memilih dengan sadar, mendukung yang berintegritas, dan menolak konser yang menjadikan euforia palsu sebagai kedok ketidaksiapan. Sebab industri musik yang sehat bukan hanya dibangun oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di depan panggung dengan nalar yang tidak mudah diperdaya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...