“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Aku ingat saat itu
kau menjagaku
dalam waktu yang
kauhitung satu persatu
Begitu nyaman aku
ketika kau bentangkan payung
meneduhkanku
dari malam hitam berganti biru
Jelas kuingat hari itu
kau terbaring layu dan selalu
titipkan pesan untukku
Kapan lagi kutemui senyumanmu
yang sepuluh tahun lalu itu?
Kini jika sampai payungmu robek
dan air menetes
dari celah-celah yang terkoyak
aku ingin genangannya
membasuh tubuhku
Kuingin kau tak menyirami
tubuhmu sendiri
meski pun itu terjadi
seperti yang kau minta
di hari penantian nanti.
Di kehidupan kedua
mungkin kau tak sama seperti
biasanya, tapi janganlah kau
tangisi diriku
dan tinggalkanlah semua
gelisah matamu
Singaraja, 2025
Pemuda rumahan, trotoar pinggir jalan
yang basah penuh air hujan
Pemuda sekolahan, kembali hidup-hidup
dari kanvas corat-coret kemarin malam
Mencari pelarian yang sudah basi
seperti warna-warni foto selfie.
Melukiskan diri sendiri dengan
obsesi tenang tanpa henti
Anak tanpa nama validasi
mengisi kamar haus mimpi-mimpi
Dan kapan lagi ia menikmati waktu
penuh tekstur keras kasar imajinasi
“Apa kau sudah cukup, Anak Pendrama!”
Panggil saja drama-drama yang
lama-lama menjadi nyata,
mengalir dari arteri menuju diafragma
Dor!
Dor!
Dor!
Tembakan penghancur gelisah
menjadi dasar keresahan
orang-orang sekitar
“Haruskan aku menikmati derita diri sendiri?”
Anak yang tak puas-puas
berpesan dalam bentuk lukis-lukis dirinya
di buku hitam kesayangan
Menyebar layaknya kanker
yang jadi dua tak karuan-karuan
membelah sel-sel dalam lukisan
merah pekat tanpa tujuan
“Bolehkah aku terbang jauh, dan
mengepakkan sayap menuju langit-langit
kurungan bingkai kanvas usang
sekali saja.”
Dor!
Dor!
Dor!
“Hidup pun sekali-kali,
kapanku benar-benar
hidup seperti lukisanku, delapan
puluh tahun lagi.“
Singaraja, 2025
“Namaku Sakra!
Manusia penuh senyum di
tengah-tengah masyarakat
menengah.”
“Namaku Sakra!
Manusia munafik di
tengah-tengah kericuhan
tanpa belas kasihan.”
Aku dan Sakra yang menari saling
melengkapi, berterima kasih pada
diri sendiri sepenuh hati
Aku dan Sakra yang hipokrit
bersama-sama, tawa penuh
kepura-puraan pada orang-orang
sekitar
Singaraja, 2025
Bangun di ruangan sunyi;
tolong jangan cari aku, tuan.
Kurung diri di kamar sendiri;
anggap saja aku mati, tuan.
Singaraja, 2025
Kau yang baik di sana
berisi doa sialan keluarga berbisa;
siapa peduli!
Kau yang bawa uang mati
ke rumah barumu;
makanlah diriku lagi, sahabatku.
“Siapa yang akan datang ke rumahmu nanti?”
“Siapa yang sedih bila kau pergi?”
Jangan tarik aku ke dalam rumah barumu!
Jangan bujuk aku ke kamar-kamar kecil itu!
Singaraja, 2025
.
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...