“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Aku ingat saat itu
kau menjagaku
dalam waktu yang
kauhitung satu persatu
Begitu nyaman aku
ketika kau bentangkan payung
meneduhkanku
dari malam hitam berganti biru
Jelas kuingat hari itu
kau terbaring layu dan selalu
titipkan pesan untukku
Kapan lagi kutemui senyumanmu
yang sepuluh tahun lalu itu?
Kini jika sampai payungmu robek
dan air menetes
dari celah-celah yang terkoyak
aku ingin genangannya
membasuh tubuhku
Kuingin kau tak menyirami
tubuhmu sendiri
meski pun itu terjadi
seperti yang kau minta
di hari penantian nanti.
Di kehidupan kedua
mungkin kau tak sama seperti
biasanya, tapi janganlah kau
tangisi diriku
dan tinggalkanlah semua
gelisah matamu
Singaraja, 2025
Pemuda rumahan, trotoar pinggir jalan
yang basah penuh air hujan
Pemuda sekolahan, kembali hidup-hidup
dari kanvas corat-coret kemarin malam
Mencari pelarian yang sudah basi
seperti warna-warni foto selfie.
Melukiskan diri sendiri dengan
obsesi tenang tanpa henti
Anak tanpa nama validasi
mengisi kamar haus mimpi-mimpi
Dan kapan lagi ia menikmati waktu
penuh tekstur keras kasar imajinasi
“Apa kau sudah cukup, Anak Pendrama!”
Panggil saja drama-drama yang
lama-lama menjadi nyata,
mengalir dari arteri menuju diafragma
Dor!
Dor!
Dor!
Tembakan penghancur gelisah
menjadi dasar keresahan
orang-orang sekitar
“Haruskan aku menikmati derita diri sendiri?”
Anak yang tak puas-puas
berpesan dalam bentuk lukis-lukis dirinya
di buku hitam kesayangan
Menyebar layaknya kanker
yang jadi dua tak karuan-karuan
membelah sel-sel dalam lukisan
merah pekat tanpa tujuan
“Bolehkah aku terbang jauh, dan
mengepakkan sayap menuju langit-langit
kurungan bingkai kanvas usang
sekali saja.”
Dor!
Dor!
Dor!
“Hidup pun sekali-kali,
kapanku benar-benar
hidup seperti lukisanku, delapan
puluh tahun lagi.“
Singaraja, 2025
“Namaku Sakra!
Manusia penuh senyum di
tengah-tengah masyarakat
menengah.”
“Namaku Sakra!
Manusia munafik di
tengah-tengah kericuhan
tanpa belas kasihan.”
Aku dan Sakra yang menari saling
melengkapi, berterima kasih pada
diri sendiri sepenuh hati
Aku dan Sakra yang hipokrit
bersama-sama, tawa penuh
kepura-puraan pada orang-orang
sekitar
Singaraja, 2025
Bangun di ruangan sunyi;
tolong jangan cari aku, tuan.
Kurung diri di kamar sendiri;
anggap saja aku mati, tuan.
Singaraja, 2025
Kau yang baik di sana
berisi doa sialan keluarga berbisa;
siapa peduli!
Kau yang bawa uang mati
ke rumah barumu;
makanlah diriku lagi, sahabatku.
“Siapa yang akan datang ke rumahmu nanti?”
“Siapa yang sedih bila kau pergi?”
Jangan tarik aku ke dalam rumah barumu!
Jangan bujuk aku ke kamar-kamar kecil itu!
Singaraja, 2025
.
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...