Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Lidah menjalar di langit luka
Dengan mudahnya mata itu bergerak
Sang langit hanya terdiam
Menatap asap yang terangkat
Kaum-kaum berlutut di bawah
Melantunkan doa dari kerongkongan kering
Seakan setiap kata menjadi rantai
Yang menahan gigi untuk tidak menutup dunia
Namun dunia sendiri hanyalah tubuh
Gunungnya tulang, lautnya darah
Kami, hanyalah sel-sel kecil
Yang akan terkelupas bila dunia menunjukkan taringnya
“Oh, engkaulah ibu, engkaulah kubur”
Engkaulah kasih yang lapar nan kabur”
Mereka mengulangnya bagai mantra
Sampai suara-suara itu menjadi serpihan malam
Wahai mata yang penuh genangan
engkau adalah jiwa yang suci
Aku melihatmu membusuk
Saat cermin berkata
“Engkau masih mengingat harapan”
Oh, jiwa yang suci
Mengapa engkau melakukan hal yang kau sukai?
Apakah sudah cukup?
Apakah tidak cukup?
Lagi dan lagi engkau menguburku
Aku mengubur diriku
Kita menguburku di tanah
Air memberiku kehangatan
Aku tahu telah mengecewakanmu
Ku pikir telah membodohi diriku
Tidakkah engkau berpikir seperti itu?
Aku harap, aku bisa kembali ke zaman dulu
Karena sekarang kesalahan berawal dariku
Aku tidak bisa hidup tanpa seseorang yang mencintaimu
Ku tahu, kita tak bisa ke masa lampau
Engkau pun tak bisa melupakan masa lalu
Karena itu akan membunuh batinku
Setelah semua kepedihan
Aku berpikir hal yang harus dilakukan
Yakni memutuskan sang insan
Apa yang terjadi biarlah terjadi
Apa yang sudah pergi biarlah pergi
Ku tak peduli lagi
Oh, duniaku kan berakhir
Sungguh takdir yang tak pernah direstui
Tak terlintas dalam benak, engkau akan melihatku seperti ini
kutukan yang berseri
Hei, para penyelamat
Mengapa tak ada yang pernah memandangku?
Mengapa tak satu pun ada yang menghargaiku?
Mengapa tak ada yang pernah menyebut namaku?
Jika memang begitu, izinkanlah diri ini untuk melupakan semuanya
Tentu, rembulan masih menyinari kita
Hatiku yang retak tak berharap engkau akan mencariku
Maka aku semakin berdosa
Menghancurkan pikiranku, mengotori tanganku
Aku bersumpah pada malam tergelap
Kan ku akhiri semua
Aku bersaksi!
Yang tersisa hanyalah kenanganmu
Bawa aku ke tempat jiwa yang hidup tenang
Tujuan terakhir, bukankah begitu?
Sampai hari ini
Aku tetap merasakan gelisah jiwa
Inilah kutukan yang bernama keadilan
Yang tak pernah engkau tahu
Selamat tidur, Saira
Pejamkan matamu dan tinggalkan mimpi ini
jatuh seakan hari-hari terus berjalan
Layaknya bunga yang tak pernah layu
Selamat tidur, Saira
Aku tahu itu sulit untuk dilakukan
Lelaplah
Tak apa-apa
Semua akan baik-baik saja
Labirin menyesatkan
Engkau hanya…
Hanya…
Hanya…
.
Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...