Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Lidah menjalar di langit luka
Dengan mudahnya mata itu bergerak
Sang langit hanya terdiam
Menatap asap yang terangkat
Kaum-kaum berlutut di bawah
Melantunkan doa dari kerongkongan kering
Seakan setiap kata menjadi rantai
Yang menahan gigi untuk tidak menutup dunia
Namun dunia sendiri hanyalah tubuh
Gunungnya tulang, lautnya darah
Kami, hanyalah sel-sel kecil
Yang akan terkelupas bila dunia menunjukkan taringnya
“Oh, engkaulah ibu, engkaulah kubur”
Engkaulah kasih yang lapar nan kabur”
Mereka mengulangnya bagai mantra
Sampai suara-suara itu menjadi serpihan malam
Wahai mata yang penuh genangan
engkau adalah jiwa yang suci
Aku melihatmu membusuk
Saat cermin berkata
“Engkau masih mengingat harapan”
Oh, jiwa yang suci
Mengapa engkau melakukan hal yang kau sukai?
Apakah sudah cukup?
Apakah tidak cukup?
Lagi dan lagi engkau menguburku
Aku mengubur diriku
Kita menguburku di tanah
Air memberiku kehangatan
Aku tahu telah mengecewakanmu
Ku pikir telah membodohi diriku
Tidakkah engkau berpikir seperti itu?
Aku harap, aku bisa kembali ke zaman dulu
Karena sekarang kesalahan berawal dariku
Aku tidak bisa hidup tanpa seseorang yang mencintaimu
Ku tahu, kita tak bisa ke masa lampau
Engkau pun tak bisa melupakan masa lalu
Karena itu akan membunuh batinku
Setelah semua kepedihan
Aku berpikir hal yang harus dilakukan
Yakni memutuskan sang insan
Apa yang terjadi biarlah terjadi
Apa yang sudah pergi biarlah pergi
Ku tak peduli lagi
Oh, duniaku kan berakhir
Sungguh takdir yang tak pernah direstui
Tak terlintas dalam benak, engkau akan melihatku seperti ini
kutukan yang berseri
Hei, para penyelamat
Mengapa tak ada yang pernah memandangku?
Mengapa tak satu pun ada yang menghargaiku?
Mengapa tak ada yang pernah menyebut namaku?
Jika memang begitu, izinkanlah diri ini untuk melupakan semuanya
Tentu, rembulan masih menyinari kita
Hatiku yang retak tak berharap engkau akan mencariku
Maka aku semakin berdosa
Menghancurkan pikiranku, mengotori tanganku
Aku bersumpah pada malam tergelap
Kan ku akhiri semua
Aku bersaksi!
Yang tersisa hanyalah kenanganmu
Bawa aku ke tempat jiwa yang hidup tenang
Tujuan terakhir, bukankah begitu?
Sampai hari ini
Aku tetap merasakan gelisah jiwa
Inilah kutukan yang bernama keadilan
Yang tak pernah engkau tahu
Selamat tidur, Saira
Pejamkan matamu dan tinggalkan mimpi ini
jatuh seakan hari-hari terus berjalan
Layaknya bunga yang tak pernah layu
Selamat tidur, Saira
Aku tahu itu sulit untuk dilakukan
Lelaplah
Tak apa-apa
Semua akan baik-baik saja
Labirin menyesatkan
Engkau hanya…
Hanya…
Hanya…
.
Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...