Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
(Dibacakan di Rumah Berdaya Denpasar, pada pembukaan pameran lukisan “Ekspresi Kebahagiaan, Sabtu 27 September 2025)
Suara-suara itu
Makin mengganggu
Aku tak paham lagi
Mana nyata
Mana tak nyata
Obat penenang
Tak mampu hilangkan
Kecemasanku
Siapa yang sakit
Sebenarnya?
Kau tak mengerti
Kesedihanku
Kesendirianku
Seorang anak
Rindukan ibunya
Di rumah sakit
Mengigau
Memanggilmu
Kita begitu jauh
Kelahiran hanya urusan
Karma semata
Tiba-tiba aku merasa
Seperti Karna
Membenci Kunti
Sudahlah Ibu!
Kita sudahi permainan ini
Kutelan kepahitan
Bagai obat yang kuminum
Bertahun-tahun lamanya
2014
Ada yang bilang kita adalah pecundang
Kalah oleh pertikaian yang tak sepadan
Siapakah pemenang di antara kita?
Saat hidup kian terasa menyakitkan
Obat tersimpan di saku celana lusuh
Setiap hari ingatkan kita kelu masa lalu
Terbuang, di belantara nasib yang raib
Orang-orang tertawa tak jua menolong
Pada ujung senja, kita bertemu di halaman
Wajah lelah dan tawa tak henti berderai
Melihat hari yang tampak bagai lelucon
Sandiwara. Semua menjadi begitu lucu!
Mari nyanyikan lagu-lagu kesedihan
Walau air mata tak bisa keluar lagi
Di hari ulang tahunmu, kita akan bertemu
Secangkir kopi dan obrolan penuh makna
Terbayang akan nasib kawan-kawan kita
Mereka hanya ingin sembuh dan bekerja
Kalah oleh delusi dan dikejar kecemasan
Dibunuh waktu, tak berdaya, akhirnya mati
Harapan. Hanya itu yang kini tersisa.
Kulihat senyum mengembang pagi ini
Di halaman koran, berita tak lagi sama
Pada kita yang pernah berlari telanjang
Di jalan waktu yang tenyata telah berlalu
Menjadi kenangan, pelajaran hidup abadi
2020
'Tidur jam berapa semalam? Apakah
tidurmu nyenyak, apakah bermimpi buruk
sehingga engkau terbangun tengah malam?
Lalu terjaga hingga suara ayam berkokok
tanda pagi hari menjelang?"
Tak ada yang bertanya itu, kecuali dokter
yang setia menemaniku. Orang-orang sibuk
dengan dirinya sendiri; menatap layar ponsel
pintar, tersenyum dan tertawa sendiri bagai
orang sakit jiwa. Mereka tidak menyadari.
Hidup di kamar sempit bersama ego
yang kian besar. Kenyang sendiri,
tak peduli tetangga belum makan,
menahan lapar karena upah habis
jauh sebelum waktu gajian.
Terpaksa berutang lagi dan lagi.
Kita dididik menjadi egois sejak kecil.
Televisi terus mengajarkan kemunafikan,
mimpi-mimpi besar penuhi otak kita,
menjadi halusinasi yang membuat
kita bertemu di ruang tunggu klinik ini.
Tak ada percakapan, tentu saja.
Sibuk sendiri dengan ponsel di
genggaman tangan yang lelah.
Kota kian sesak, jalanan macet,
tekanan hidup semakin berat,
sementara politisi melupakan
janji-janji saat kampanye dulu.
Di headline media online, kenyataan
terpaksa kita akui dengan rasa malu:
juara satu angka bunuh diri, pengidap
gangguan jiwa berat terbanyak.
Bagai angin, dianggap akan berlalu.
Sebab kita mudah lupa, itu selalu.
2024
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...