Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
DALAM berbagai gerakan lingkungan di dunia, sering kita dengar slogan “Save the Earth” atau “Save Mother Earth”. Kalimat ini terlihat heroik dan penuh semangat. Namun Guruji Anand Krishna, seorang pemikir spiritual kontemporer Indonesia, mengajak kita untuk merenungkan makna terdalam dari kalimat itu.
Seruan “Save Mother Earth” justru menunjukkan sikap antroposentris yang arogan — seakan-akan manusia adalah penyelamat bumi, lebih superior dari alam. Padahal, realitasnya justru sebaliknya: kitalah yang bergantung pada bumi, dan bumi tidak membutuhkan kita untuk diselamatkan.
Sebagai gantinya, Guruji mengajak kita mengubah paradigma dan berkata:
Bukan menyelamatkan, tetapi melayani.
Inilah pergeseran kesadaran yang sangat penting dalam era krisis iklim dan kehancuran ekologi yang sedang kita alami.
Konsep “Save Mother Earth” tumbuh dari kesadaran ekologis yang muncul di abad ke-20, ketika kerusakan lingkungan mulai terlihat nyata. Polusi udara, pencemaran air, deforestasi, dan punahnya spesies membuat banyak aktivis menyuarakan perlunya “penyelamatan” terhadap bumi.
Namun dalam kalimat ini tersimpan bahaya laten:
Sikap ini sebagai refleksi dari ego kolektif umat manusia, warisan dari peradaban yang memisahkan manusia dari alam, dan memandang alam hanya sebagai sumber daya untuk dikuasai.
Jika ibu kita sakit, apakah kita menyelamatkannya? Atau kita melayani dan merawatnya dengan penuh cinta?
Bumi bukanlah objek eksternal. Ia adalah ibu kita, dan sudah waktunya kita memperlakukan bumi dengan hormat, bukan dengan sikap pahlawan.
Berbeda dengan save, kata serve mencerminkan kerendahan hati, pengabdian, dan pengakuan atas keterhubungan kita dengan alam. Melayani ibu bumi berarti:
Dalam spiritualitas Timur — khususnya dalam tradisi Sanatana Dharma — bumi bukan sekadar planet, tetapi manifestasi dari Ibu Ilahi, disebut Bhumi Devi. Ia adalah sosok hidup yang layak dihormati dan dilayani. Oleh karena itu, kata “serve Mother Earth” sejatinya adalah doa dan tindakan sekaligus.
Guruji Anand Krishna mempopulerkan istilah ini dalam banyak tulisannya. Di situ, beliau menekankan bahwa menyelamatkan bumi bukan lagi cukup — kita harus berubah secara mendalam dan bertindak sebagai pelayan kehidupan, bukan penguasa.
Mengubah paradigma dari save ke serve bukan hanya perubahan kata, tetapi perubahan gaya hidup. Berikut adalah beberapa bentuk pelayanan kepada Ibu Bumi yang diajarkan oleh Guruji Anand Krishna dan telah dipraktikkan di Anand Ashram dan sayap-sayap organisasi lainnya:
Pandangan Guruji Anand Krishna sejalan dengan banyak pemikir ekologis dan spiritualis dunia seperti:
Sains modern pun mendukung paradigma ini. Ekologi sistem mengajarkan bahwa keseimbangan ekologis hanya tercapai bila manusia berhenti menjadi predator puncak, dan mulai berperan sebagai pengelola yang penuh kasih dalam jaringan kehidupan.
Dalam era krisis ekologis global, seruan “Save the Earth” terasa tidak lagi memadai. Kita tidak lebih tinggi dari alam, dan tidak punya kuasa menyelamatkannya sendirian. Justru kita yang membutuhkan penyelamatan — oleh kesadaran baru, oleh bumi yang lestari, oleh gaya hidup yang lebih rendah hati.
Karena itu, seruan “Serve Mother Earth” sebagaimana diajarkan Guruji Anand Krishna, bukan sekadar slogan baru, tetapi fondasi kesadaran baru. Kesadaran bahwa kita adalah anak dari bumi, dan tugas kita adalah mengabdi, menjaga, dan menghormati sang ibu, bukan mengeksploitasi dan mengatur sewenang-wenang.
Bumi tidak butuh penyelamat.
Kita butuh berubah.
Dan perubahan itu dimulai dari hati, dari kesadaran, dari tindakan kecil sehari-hari yang lahir dari cinta dan pengabdian.
Melayani Ibu Bumi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan untuk masa depan kita bersama. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...