Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
DALAM berbagai gerakan lingkungan di dunia, sering kita dengar slogan “Save the Earth” atau “Save Mother Earth”. Kalimat ini terlihat heroik dan penuh semangat. Namun Guruji Anand Krishna, seorang pemikir spiritual kontemporer Indonesia, mengajak kita untuk merenungkan makna terdalam dari kalimat itu.
Seruan “Save Mother Earth” justru menunjukkan sikap antroposentris yang arogan — seakan-akan manusia adalah penyelamat bumi, lebih superior dari alam. Padahal, realitasnya justru sebaliknya: kitalah yang bergantung pada bumi, dan bumi tidak membutuhkan kita untuk diselamatkan.
Sebagai gantinya, Guruji mengajak kita mengubah paradigma dan berkata:
Bukan menyelamatkan, tetapi melayani.
Inilah pergeseran kesadaran yang sangat penting dalam era krisis iklim dan kehancuran ekologi yang sedang kita alami.
Konsep “Save Mother Earth” tumbuh dari kesadaran ekologis yang muncul di abad ke-20, ketika kerusakan lingkungan mulai terlihat nyata. Polusi udara, pencemaran air, deforestasi, dan punahnya spesies membuat banyak aktivis menyuarakan perlunya “penyelamatan” terhadap bumi.
Namun dalam kalimat ini tersimpan bahaya laten:
Sikap ini sebagai refleksi dari ego kolektif umat manusia, warisan dari peradaban yang memisahkan manusia dari alam, dan memandang alam hanya sebagai sumber daya untuk dikuasai.
Jika ibu kita sakit, apakah kita menyelamatkannya? Atau kita melayani dan merawatnya dengan penuh cinta?
Bumi bukanlah objek eksternal. Ia adalah ibu kita, dan sudah waktunya kita memperlakukan bumi dengan hormat, bukan dengan sikap pahlawan.
Berbeda dengan save, kata serve mencerminkan kerendahan hati, pengabdian, dan pengakuan atas keterhubungan kita dengan alam. Melayani ibu bumi berarti:
Dalam spiritualitas Timur — khususnya dalam tradisi Sanatana Dharma — bumi bukan sekadar planet, tetapi manifestasi dari Ibu Ilahi, disebut Bhumi Devi. Ia adalah sosok hidup yang layak dihormati dan dilayani. Oleh karena itu, kata “serve Mother Earth” sejatinya adalah doa dan tindakan sekaligus.
Guruji Anand Krishna mempopulerkan istilah ini dalam banyak tulisannya. Di situ, beliau menekankan bahwa menyelamatkan bumi bukan lagi cukup — kita harus berubah secara mendalam dan bertindak sebagai pelayan kehidupan, bukan penguasa.
Mengubah paradigma dari save ke serve bukan hanya perubahan kata, tetapi perubahan gaya hidup. Berikut adalah beberapa bentuk pelayanan kepada Ibu Bumi yang diajarkan oleh Guruji Anand Krishna dan telah dipraktikkan di Anand Ashram dan sayap-sayap organisasi lainnya:
Pandangan Guruji Anand Krishna sejalan dengan banyak pemikir ekologis dan spiritualis dunia seperti:
Sains modern pun mendukung paradigma ini. Ekologi sistem mengajarkan bahwa keseimbangan ekologis hanya tercapai bila manusia berhenti menjadi predator puncak, dan mulai berperan sebagai pengelola yang penuh kasih dalam jaringan kehidupan.
Dalam era krisis ekologis global, seruan “Save the Earth” terasa tidak lagi memadai. Kita tidak lebih tinggi dari alam, dan tidak punya kuasa menyelamatkannya sendirian. Justru kita yang membutuhkan penyelamatan — oleh kesadaran baru, oleh bumi yang lestari, oleh gaya hidup yang lebih rendah hati.
Karena itu, seruan “Serve Mother Earth” sebagaimana diajarkan Guruji Anand Krishna, bukan sekadar slogan baru, tetapi fondasi kesadaran baru. Kesadaran bahwa kita adalah anak dari bumi, dan tugas kita adalah mengabdi, menjaga, dan menghormati sang ibu, bukan mengeksploitasi dan mengatur sewenang-wenang.
Bumi tidak butuh penyelamat.
Kita butuh berubah.
Dan perubahan itu dimulai dari hati, dari kesadaran, dari tindakan kecil sehari-hari yang lahir dari cinta dan pengabdian.
Melayani Ibu Bumi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan untuk masa depan kita bersama. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...