Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
ALUNAN gamelan mengentak panggung Tugu Singa Ambara Raja, Kamis, 21 Agustus 2025. Nadanya terkadang melesat cepat, lalu mengalir tenang laksana air. Dan di balik komposisi itu, tersimpan sebuah pertanyaan: Akankah air yang menopang kehidupan hari ini masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang?
Pertanyaan tersebut menjadi inti penampilan dari Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan dalam Buleleng Festival 2025.

Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
Melalui sebuah pertarungan seni (mabarung) yang memukau bersama UKM Kesenian Daerah Undiksha, Tim Kesenian Bala Gurnita menampilkan tiga karya: Tabuh Kreasi Pepanggulan Bayu Banyuning, Tari Truna Jaya, dan Fragmentari Praja Winangun.
Penampilan dibuka dengan Tabuh Kreasi Pepanggulan Bayu Banyuning. Menurut penanggung jawab tim Putu Ardiyasa, pemilihan karya seniman Made Wira Okta Atmadi ini adalah sebuah identitas.
"Pertama, karena kampus Institut Mpu Kuturan ada di Banyuning. Secara kebanggaan, kita membawa karya orang Banyuning. Roh itu yang kita bawa," tegas Ardi.
Garapan Bayu Banyuning menjadi simbol kekuatan suci kehidupan—Bayu: kekuatan, Banyu: air/kehidupan, Ning: suci). Kekuatan ini diharapkan dapat memengaruhi akal pikiran dan perilaku manusia agar senantiasa tangguh berlandaskan kebenaran, termasuk kebenaran dalam menjaga alam.

Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan foto bersama dengan para pimpinan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
"Energi air diterjemahkan ke dalam nada gamelan yang dinamis, di mana alunan tempo dan melodi terkadang meloncat cepat dan di lain waktu mengalun tenang," tutur dosen IAHN Mpu Kuturan sekaligus dalang itu.
Namun, tabuh ini menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan tentang hubungan manusia dengan sumber daya air yang kian tergerus. "Kelak, anak cucu kita akan punya masalah. Bisa jadi mereka tidak bisa mendapatkan air yang seperti kita dapatkan sekarang," ujar Ardi.
Panggung beralih saat lima penari putri membawakan Tari Trunajaya, tarian yang berasal dari daerah Bali Utara, Kabupaten Buleleng. Tarian ini merupakan mahakarya Pan Wadres yang disempurnakan oleh I Gde Manik, yang menceritakan seorang pemuda yang menginjak dewasa dengan tampilan ekspresi kuat, emosional tinggi, serta ulahnya yang energik. Sebagai bentuk penghormatan, potret sang maestro Gde Manik ditampilkan di Patung Tugu Singa Ambara Raja selama tarian berlangsung.

Tari Trunajaya persembahan Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
"Sesuai tema Bulfest tahun ini, Mask History of Buleleng, kami menghadirkan spirit Buleleng dalam seni pertunjukan dan penuh simbol budaya,” ucap Ardi.
Dewa Ayu Nyoman Ariantini, mahasiswi semester 5 program studi Pendidikan Seni Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) mengungkapkan rasa bangganya saat tampil menarikan Tari Trunajaya di Bulfest 2025.
"Meskipun latihannya memakan waktu yang sedikit akibat kesibukan mahasiswa, tapi sebuah kebanggaan tersendiri sudah tampil di Bulfest 2025,” ungkapnya.
Puncak penampilan Bala Gurnita Mpu Kuturan hadir melalui Fragmentari Praja Winangun. Ardi memaparkan kisah ini sebagai pembangunan Kerajaan Indraprastha oleh Pandawa yang gigih di atas jejak pralaya hutan Kandawa. Hutan tersebut dikuasai Taksaka, sang raja ular, dan dilindungi oleh Dewa Indra.

Babak Pandawa melawan Tatsaka dalam Fragmentari Praja Winangun persembahan Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
Jargon pembangunan yang menggaungkan harmoni dengan alam, seperti Wana Kerthi, terdengar megah di ruang-ruang publik. Namun, di lapangan, realitas seringkali berbicara sebaliknya. Jutaan hektar hutan habis dibabat, berganti menjadi lahan pembangunan atas nama kemajuan.
"Pemerintah menyerukan hentikan deforestasi, tapi nyatanya jutaan hektar hutan dijadikan lahan pembangunan. Ini kan berbanding terbalik dengan kebijakannya,” tutup Ardi sesaat setelah pertunjukan itu selesai.[T]
Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...