Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
ALUNAN gamelan mengentak panggung Tugu Singa Ambara Raja, Kamis, 21 Agustus 2025. Nadanya terkadang melesat cepat, lalu mengalir tenang laksana air. Dan di balik komposisi itu, tersimpan sebuah pertanyaan: Akankah air yang menopang kehidupan hari ini masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang?
Pertanyaan tersebut menjadi inti penampilan dari Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan dalam Buleleng Festival 2025.

Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
Melalui sebuah pertarungan seni (mabarung) yang memukau bersama UKM Kesenian Daerah Undiksha, Tim Kesenian Bala Gurnita menampilkan tiga karya: Tabuh Kreasi Pepanggulan Bayu Banyuning, Tari Truna Jaya, dan Fragmentari Praja Winangun.
Penampilan dibuka dengan Tabuh Kreasi Pepanggulan Bayu Banyuning. Menurut penanggung jawab tim Putu Ardiyasa, pemilihan karya seniman Made Wira Okta Atmadi ini adalah sebuah identitas.
"Pertama, karena kampus Institut Mpu Kuturan ada di Banyuning. Secara kebanggaan, kita membawa karya orang Banyuning. Roh itu yang kita bawa," tegas Ardi.
Garapan Bayu Banyuning menjadi simbol kekuatan suci kehidupan—Bayu: kekuatan, Banyu: air/kehidupan, Ning: suci). Kekuatan ini diharapkan dapat memengaruhi akal pikiran dan perilaku manusia agar senantiasa tangguh berlandaskan kebenaran, termasuk kebenaran dalam menjaga alam.

Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan foto bersama dengan para pimpinan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
"Energi air diterjemahkan ke dalam nada gamelan yang dinamis, di mana alunan tempo dan melodi terkadang meloncat cepat dan di lain waktu mengalun tenang," tutur dosen IAHN Mpu Kuturan sekaligus dalang itu.
Namun, tabuh ini menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan tentang hubungan manusia dengan sumber daya air yang kian tergerus. "Kelak, anak cucu kita akan punya masalah. Bisa jadi mereka tidak bisa mendapatkan air yang seperti kita dapatkan sekarang," ujar Ardi.
Panggung beralih saat lima penari putri membawakan Tari Trunajaya, tarian yang berasal dari daerah Bali Utara, Kabupaten Buleleng. Tarian ini merupakan mahakarya Pan Wadres yang disempurnakan oleh I Gde Manik, yang menceritakan seorang pemuda yang menginjak dewasa dengan tampilan ekspresi kuat, emosional tinggi, serta ulahnya yang energik. Sebagai bentuk penghormatan, potret sang maestro Gde Manik ditampilkan di Patung Tugu Singa Ambara Raja selama tarian berlangsung.

Tari Trunajaya persembahan Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
"Sesuai tema Bulfest tahun ini, Mask History of Buleleng, kami menghadirkan spirit Buleleng dalam seni pertunjukan dan penuh simbol budaya,” ucap Ardi.
Dewa Ayu Nyoman Ariantini, mahasiswi semester 5 program studi Pendidikan Seni Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) mengungkapkan rasa bangganya saat tampil menarikan Tari Trunajaya di Bulfest 2025.
"Meskipun latihannya memakan waktu yang sedikit akibat kesibukan mahasiswa, tapi sebuah kebanggaan tersendiri sudah tampil di Bulfest 2025,” ungkapnya.
Puncak penampilan Bala Gurnita Mpu Kuturan hadir melalui Fragmentari Praja Winangun. Ardi memaparkan kisah ini sebagai pembangunan Kerajaan Indraprastha oleh Pandawa yang gigih di atas jejak pralaya hutan Kandawa. Hutan tersebut dikuasai Taksaka, sang raja ular, dan dilindungi oleh Dewa Indra.

Babak Pandawa melawan Tatsaka dalam Fragmentari Praja Winangun persembahan Tim Kesenian Bala Gurnita dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di panggung Buleleng Festival 2025 | Foto: Puja
Jargon pembangunan yang menggaungkan harmoni dengan alam, seperti Wana Kerthi, terdengar megah di ruang-ruang publik. Namun, di lapangan, realitas seringkali berbicara sebaliknya. Jutaan hektar hutan habis dibabat, berganti menjadi lahan pembangunan atas nama kemajuan.
"Pemerintah menyerukan hentikan deforestasi, tapi nyatanya jutaan hektar hutan dijadikan lahan pembangunan. Ini kan berbanding terbalik dengan kebijakannya,” tutup Ardi sesaat setelah pertunjukan itu selesai.[T]
Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...