PAHLAWAN
Edisi 11/11/2019 KOPLAK menutup matanya rapat-rapat. Di usianya yang tidak lagi muda, banyak sekali persoalan-persoalan besar yang bergentanyangan mendarat di dalam pikirannya,...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Edisi 11/11/2019 KOPLAK menutup matanya rapat-rapat. Di usianya yang tidak lagi muda, banyak sekali persoalan-persoalan besar yang bergentanyangan mendarat di dalam pikirannya,...
"Rambut tanda-tanda bakal gondrong,cukur nggak ya?" Sebuah caption dalam whatsapp story kubagikan di lingkaran relasi dan dosen saat itu aku masih KKN yang menyita jatah libur...
BEBERAPA bulan lalu, saya sempat menulis tentang arak Bali. Artikel yang saya tulis sambil lalu, sambil meminum beberapa sloki arak Bali. Saat melancong ke Desa Tembok, id...
Institut Prancis Indonesia (IFI) dan Alliance Francaise (AF) Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) menghadirkan Festival Sinema Prancis 2019. Pemutaran film yang tera...
Hiruk pikuk modernitas menjadi isnpirasi bagi penulis-penulis muda Bali. Dampak dari tajamnya laju modernitas ini menimbulkan rasa cemas, khawatir, krisis eksistensi, dan depresi...
A. Gambaran Umum Eka Kurniawan dalam lamannya menuliskan bahwa sebuah media sastra seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari kegelisahan, dan lahir dari satu visi mengenai...
Komunitas sastra dan karya sastra merupakan satu rantai kebudayaan yang takdapat dipisahkan. Tidak ada yang lebih penting atau lebih tidak penting. Ketika salah satunya hilang, ra...
Seorang perempuan berjalan menunduk. Sekelilingnya sunyi, sawah sepi kini. Sendiri saja ia, dalam huma propaganda. Ia merindukan keriangan masa kanak-kanak. Di batas sunyi itulah,...
Tentunya masih teringat gelombang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah yang puncaknya pada 24 September 2019. Khususnya di DKI Jakarta, mahasiswa bers...
Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik...