PEMBANTU
Edisi 4/11/2019 KOPLAK duduk terdiam di ruang kerjanya. Sambil memandang dengan serius wajah Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja dilantik. Beban berat terasa terurai dan...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Edisi 4/11/2019 KOPLAK duduk terdiam di ruang kerjanya. Sambil memandang dengan serius wajah Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja dilantik. Beban berat terasa terurai dan...
“Alih media dari teks ke pertunjukkan” dan juga “Meng-adegankan puisi dalam bentuk drama” itulah dramatisasi puisi menurut Desi Nurani pembina sekaligus pelatih Sanggar Seni Kelak...
Pada buku “Paduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi”, dijelaskan arti Muspus menurut pengarangnya Hamdy Salad bahwa Musikalisasi Puisi atau Muspus adalah segala bentuk dan...
Judul Event: Cube #2Tema: DispersionWaktu: minggu/3 november 2019 - 10 November 2019 Tempat: Kulidan Kitchen Space, Desa Guwang GianyarPeserta: Dosen DKV STD Bali Mengulangi k...
Judul Buku :Sisi-Sisi yang MenghidupkanPenulis : Gallang Riang GempitaPenerbit : FramepublishingISBN ...
Judul : Api KataPenulis : Kim Al Ghozali AMPenerbit : Basabasi, 2017ISBN : 9786023913336 Jumlah Halaman :107 ___ Kim Al Ghozali AM tak menentukan untuk menjadi siapa dan ap...
Tim Penulis: I Made Suarbawa, Fransiska Prihadi, Rickdy Vanduwin S Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week 5 dilanjutkan...
Judul Buku : KhotbahPenulis : Dwi S WibowoPenerbit : Alpha CentauriISBN : 978-602-3092-29...
Mengulas buku antologi puisi berjudul Menanam Puisi di Emperan Matamu karya Wayan Esa Bhaskara adalah salah satu pengalaman berharga bagi saya. Pasalnya ini adalah kali pertama ba...
Judul Buku : BELOGPenulis : TudekamatraPenerbit : Pustaka EkspresiISBN : 978-602-7610-26-2...