Di
mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa
puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita
menjadi lebih baik ? Siapa saja yang membaca puisi ? Apakah puisi hanya hadir
di perlombaan saja? Di tengah realitas bahasa Indonesia hari ini yang oleh Joko
Pinurbo katakan lingkungan vandalisme Bahasa, pada tataran mana puisi berada ?
Dan
banyak lagi pertanyaan lainnya, yang tentu saja jika kita diskusikan dengan
segelas kopi di beranda rumah, akan menjadi bahan yang menyenangkan dan
mengasyikkan. Tapi maafkan, saya tidak akan membicarakan hal-hal berat dalam
tulisan ini terkait menjawab pertanyaan di atas, apalagi mencari sejarah
perkembangan puisi. Aiiiih..
Saya
ditugaskan menulis catatan kecil terkait proses kreatif pementasan Apresiasi
Sastra di Festival Seni Bali Jani 2019. Saya dan dua kawan lainnya yakni Dharma
Putra dan Virginia Alenzka mendapat amanah yang cukup menantang, mencampur
baurkan bentuk puisi yang kami amini, mempertemukan mereka dalam satu meja
makan, di panggung pentas.
Dharma
Putra dan Virginia Alenzka gemar menulis dan membaca puisi. Dharma Putra
menulis puisinya dalam Bahasa Bali dan sering mendiskusikan karya-karya puisinya
bersama kelompok Bali Sastra Komala, Bangli. Kelompok ini cukup aktif dan
produktif dalam gerakan kesusastraan Jawa Kuna, menelurkan sejumlah penulis
berbahasa Bali termasuk dirinya.
Sementara
Virgi menulis dalam Bahasa Inggris, berama kawan-kawannya mendirikan kelompok Unspokenpoetry yang
sering menghelat acara membaca puisi di sejumlah café di Bali. Wajah Virgi
tidak asing jika kawan-kawan mengunjungi UWRF Ubud Writer and Reader Festival
setiap tahunnya, ia biasanya mejadi panitia atau perancang satu dua acara pada
festival berskala International tersebut. Jadi memang sewajarnya dia menulis
dalam Bahasa Inggris terlebih lagi ia lulusan Sastra Inggris di UNDKSHA, serta
berkegiatan kreatif di Komunitas Mahima
Buleleng.
Sementara
saya menulis Puisi Bahasa Indonesia, yang tidak berat-brat amat. Bersama
kawan-kawan serasa suka menyusun metode-metode eksperimen kepenulisan puisi di
Kelompok Belajar Bareng Pu. I. SEE – Canasta Creative Space. Serta aktif di
kelompok Teater Kalangan, beberapa karya pertunjukan saya, berbasis puisi.
Kami
bertiga dipertemukan untuk merangkai satu pertunjukan, menggabungkan kebiasaan
kami dalam menulis puisi kemudian menghadirkannya ke ruang pentas. Sebelumnya
kami menjabarkan bentuk puisi yang kami yakini dan kerjakan selama ini. Dharma
Putra yang sering bersentuhan dengan tembang-tembang Bali, seperti mepalawakya,
mesloka dan mekidung, kerap membacakan puisi dengan merubah bait-bait puisi
menjadi tembang.
Dengan
suara beratnya yang menggema, puisi seolah memiliki aura magis yang kental.
Mungkin karena metembang dan sejenisnya itu sering saya saksikan di pura, hal
ini melekat sekali dengan identitas ruang capaian yang ditujukan ke
pendengar. Dharma Putra meletakkan kata
pada susunan bunyi yang saling tumpang tindih, tapi masih asyik untuk didengar,
jika tidak hati-hati kata-kata bisa lenyap seketika, karena kita dihipnotis
dengan rapal mantra yang ia dendangkan.
Sementara Virgi membaca puisi seperti mengobrol, tidak
ada tedensi melebih-lebihkan makna lewat ekspresi, gerakan ini saya kenal
dengan Puisi Slam. Puisi Slam sangat jauh dengan pembacaan puisi Bahasa
Indonesia, dalam Puisi Slam kejarannya adalah peristiwa puitis yang dinarasikan
berdasarka kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja luput dari pandangan
orang awam. Jadi kawan-kawan akan
menyaksikan seseorang menceritakan kisah dirinya sendiri, seperti curhat kepada
kawan, namun dengan sentuhan metafora di beberapa bagiannya.
Virgi
fasih menggunakan Bahasa Inggris dalam menyajikan Puisi Slam, hal ini sangat
berjarak bagi keseharian saya (kendati saya hidup di Bali dalam hiruk pikuk
pulau pariwisata). Satu kata saja belum tertangkap maksudnya - belum
menggambarkan sesuatu dalam imaji saya, kemudian dijejal kata lainnya dengan
cepat. Aaargh bingung.
Melihat
Virgi di atas panggung seperti menyaksikan kebudayaan luar yang sedang
membicarakan dirinya yang asing di pulau ekspansi, sementara saya berada pada
ketegangan kebudayaan tersebut. Tarik ulur makna di benak penonton adalah ruang
tegang yang saya maksud, sebab kata dan metafor dalam satu kebudayaan dengan
kebudayaan lainnya memiliki perbedaan yang harus dipahami secara mendalam.
Sementara
saya, suka menerjemahkan puisi dengan cara mengobrak-abrik tubuh puisi kemudian
mencari padanannya di realitas pengalaman sehari-hari. Kemudian hadir dalam
peristiwa panggung dengan simbol, objek, tubuh aktor, gerak fragmen, serta
kemungkinan bunyi. Bagi saya tubuh puisi memiliki ruang sublim yang kaya
intrepretasi, bias intrepretasi inilah menjadi batasan eksplorasinya. Jadi
kehadiran kata-kata porsinya lebih sedikit, paling hanya berupa tegasan untuk
memperkuat aktifitas aktor.
Prok-prok-prok jadi apa ?
Kami
hendak meramu rasa puisi masing-masing, Dharma Putra akan membawakan puisi
terkait pencaharian dirinya. Antara kepala hingga ke kaki, Dije Sirah Dije Batis. Bagaimana
manusia hari ini dihadapkan dengan banyak pilihan, namun sering salah pilih. Sementara
Virgi akan membawakan puisi terkait tubuhnya di masyarakat atas segala pranata
identitas yang melekat. Harus sesuai
pada umumnya, namun tidak sesuai pada kehendak nurani. Sementara saya akan
membahas perjalanan ke Jembrana dan Buleleng, perjalanan yang cukup
kontemplatif dalam mengenali suara dalam diri, cakeeeep !!! Saya mengajewantahkan kata-kata ke objek semisal ban,
sandal, kursi, tv, suara bising di jalan, batu, helm gojek dan lain sebagainya.
Kemudian
kami hendak mencari kemungkinan rekontruksi bahasa dalam puisi, di tengah
realitas bahasa hari ini pada carut marutnya kebudayaan lisan kita. Bahasa
merupakan unsur pertama dalam sistem masyarakat yang paling rentan terkena
paparan dari luar. Namun dari bahasalah kita memahami bagaimana satu kebudayaan
berdialektika hingga berkembang ke arah mana. Apakah kata-kata perlahan hilang
lalu punah atau terbuka menerima serapan luar kemudian diadaptasi menjadi milik.
Dalam hal ini saya membicarakan puisi yah.
Jika
dikaitkan dengan Bali, betapa berseterunya itu, Bali yang separiwisata ini
harus membuka lebar-kebar bahasa asing yang masuk, namun juga harus mempertahankan
diri sebagai identitas Bahasa Balinya kemudian lebih jauh memperjuangkan nasionalisme dalam Bahasa
Indonesia.
Seorang
kawan yang kebetulan bekerja di Daerah Canggu-Bali, daerah yang sedang
berkembang dan gencar membangun sana-sini, sawah-sawahnya hanya estetik semata
dalam menyambut tamu mancanegara, papan-papan iklan tanah di jual atau disewakan
memenuhi setiap tikung jalannya. Kata dia kawan-kawannya yang asli jawa Timur,
Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menetap di Canggu, jika bertemu pasti
berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
“Apa
yang sedang terjadi yah, seolah-olah mereka tengah mencari identitas baru dalam
menggunakan bahasa inggris, kenapa tidak bangga dengan menggunakan bahasa
Indonesia atau bahasa daerahnya saja” tanyanya kepada saya.
Sementara
seorang kawan dekat, yang saat ini menempuh pendidikan pasca Sarjana UNUD,
Linguistik mengatakan hari ini kita kehilangan beberapa kata-kata. Ada sejumlah
kata-kata yang tidak pernah kita pakai atau dengar lagi, semisal tunggang
langgang, pongah, tedeng aling-aling.
“Ke
mana perginya kata-kata itu yah?” ujarnya dengan heran
Nah
Lo, bahasa tengah galau lo ini.
NB :
Namun jangan galau juga ketika menonton pementasan kami bertiga, kata-kata akan dilagukan, kata Bahasa Inggris akan dinyanyikan dengan teknik mekidung, kada bahasa Indonesia akan berlari menjadi ban-ban mobil, kata-kata akan menjelma helm gojek yang tengah mencari alamat untuk pulang, kata-kata saling silang tanpa makna yang jelas, kata-kata akan mencari maknanya sendiri dalam bunyi, kata-kata akan menghilang lalu menjadi teriakan, kata-kata akan menyatu dengan bangunan di pura, kata-kata akan bercumbu dalam realitas kita sehari-hari. [T]
Salam
.