Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
jiwa pernah kudengar
sudah kau memeluk tubuhmu?
kudengar orang mendengkur
saat kau mengusap keringatmu
24 jam buat berkelana
dan lampu tidur tak padam juga
katamu, lebih suka malam
merangkai bintang di luaran sana
Dik, kau saji kopi dan rokok
biarkan lelaki dengan bayangannya
tolong Nina Bobo anak kita
hantarkan mimpi indah padanya
20 April, 2025
Dua orang mempelai yang akan diakadkan
duduk menghadap leluhurnya
memasang kedua telinga, membuka kedua mata
Bapak dan Ibu tidak bertanya apa pekerjaanmu
Bapak dan Ibu tidak memastikan bagaimana pendidikanmu
Bapak dan Ibu tidak mau tahu berapa besar hartamu
Bapak dan Ibu tidak peduli siapa pangkatmu
Bapak dan Ibu boleh minta satu?
Bawa anakku ke surga bersamamu
20 April, 2025
Dengan ini saya menyatakan,
berapa tahun lalu saya belajar ilmu pengetahuan
yang belum tentu dipakai kerja
setidaknya bisa buat jaga-jaga
sewaktu-waktu terjadi bencana
saya membaca berbagai bencana
ada kobaran api ijazah palsu,
gelar palsu, dan foto palsu saya
ada yang tersirat
uang kuliah, tenaga, dan air mata
demi menjelma manusia terdidik
sekali lagi dengan ini saya menyatakan,
bukan tugas saya
membuka pintu hati mereka
20 April, 2025
ketika pulang ke tempat semula
daku tetap anak desa
yang pura-pura serupa anak kota
berapa lama pergi dari sini
beranjak mempercantik diri
tempat bermain raib diamuk raksasa
rumah-rumah sudah melambung ke awan
kawan-kawan antri berkawin
daun-daun muda menggugurkan yang tua
dikecup waktu yang tanggal dan tinggal
kemana saja telah membawaku
Ibu keindahan itu dimana-mana
selalu surga di telapak kakimu
20 April, 2025
Penulis: Muhammad Rafi’ Hanif
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...