Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
pada sebuah lingkaran duka
kau menyalakan dendam
dibikin dari api ketakutan
masa lalu kehilangan alamat
rumah sakit jiwa
bercak-bercak lukamu telanjur dikenali
sementara kau tak mengenali siapapun
sunyi perjalananmu
seperti tagihan obat-obat mahal
tak sempat dilunasi
ibu berwarna biru. terjatuh berkali-kali
saat menemanimu
mencari ayah dalam kertas silsilah
serupa menelusuri kota
yang hilang
dalam peta dunia
alkohol
membusuk pada lambung bapak
keinginan balas dendam
melarutkan diri sebagai intisari
kehidupan
bapak merahasiakan
cerita yang telah lama menyala
seperti zat adiktif
dibakar api ketidakpercayaan diri
memar kaki bapak
berjalan di atas
kesakitan yang tak memiliki penawar
berbotol musim telah tumpah
pada rumah kecil keluarga
yang tak siap menerima
kabar besar
I
waktu mengeras dalam kamar
sunyi menyublim kala purnama
menerangkan nama yang
tersimpan dalam gelap lemari:
mayat hidup berkalung azimat
di depan ada cermin menyembunyikan
bayangan tubuh, menyisakan rahasia
tentang segala muasal yang ganjil
berserakan bersama kehancuran
yang telah terlalu lama menetap di ini kampung.
II
suara kecil, pemandangan kecil,
mimpi kecil, kampung kecil
kapan akhir akan bermula!
tubuh membatu
di dalam waktu
hidupkanlah kata-kata
agar sepi yang bermuka-muka
terlepas dari kewajiban—
pungut aku kala purnama mengancam
dan pertarungan tak menghasilkan
siapa yang menang, siapa yang kalah
setelah itu kau harus kembali meletakkanku
agar aku bisa memberikan cahaya
kepada segala yang ingin melihat
meski dari lubang kecil kerang
serupa kebahagiaan muka pelaut
setelah lama tak pulang ke
rumah yang dihimpit hotel
membuat tegak tubuhmu perlahan menghilang
bintang-bintang kecil terjatuh
meninggalkan cahaya susut
pohon waru, hampir patah silsilah keluarga
akan kau dengar sayup bekas pertengkaran yang memaksaku
menyebar dengan sunyi ke garis pantai—
mimpiku yang terjadi setiap hari
harus kau ceritakan pada anak-anakmu
sebelum kau menjadi abu dan menyatu denganku
menyusuri pulau-pulau baru
di palung desember
“bulan akan tetap mengendalikanku,” katamu
kau telah menyembunyikan keinginan-keinginanmu
di antara hujan yang ragu-ragu dan terik matahari yang kaku
kau tidak akan melihat ke belakang
seperti rumah yang mengabaikan tanah sempit
dan pohon yang merindukan lengang angin
kau bergegas. komet malam menjemputmu
batas tak lagi menjadi pertanyaanmu yang tak kunjung selesai
berangkatlah, tidak ada masa depan
di mataku. hanya kekosongan berdiam diri
menelusuri napas terakhirmu
sebagai satu-satunya alat balas dendam
Penulis: Gilang Sakti Ramadhan
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...