Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan | Senandika

Gilang Sakti Ramadhan
by Gilang Sakti Ramadhan — Februari 23, 2025 in Puisi

Tatkala.co

SENANDIKA

  • untuk I Made Aditya Nugraha Putra

pada sebuah lingkaran duka
kau menyalakan dendam
dibikin dari api ketakutan

masa lalu kehilangan alamat
rumah sakit jiwa
bercak-bercak lukamu telanjur dikenali
sementara kau tak mengenali siapapun

sunyi perjalananmu
seperti tagihan obat-obat mahal
tak sempat dilunasi

ibu berwarna biru. terjatuh berkali-kali
saat menemanimu
mencari ayah dalam kertas silsilah
serupa menelusuri kota
yang hilang

dalam peta dunia
 

ZAT ADIKTIF

alkohol
membusuk pada lambung bapak
keinginan balas dendam
melarutkan diri sebagai intisari
kehidupan

bapak merahasiakan
cerita yang telah lama menyala
seperti zat adiktif
dibakar api ketidakpercayaan diri

memar kaki bapak
berjalan di atas
kesakitan yang tak memiliki penawar

berbotol musim telah tumpah
pada rumah kecil keluarga
yang tak siap menerima
kabar besar
 

ROTASI

I
waktu mengeras dalam kamar
sunyi menyublim kala purnama
menerangkan nama yang
tersimpan dalam gelap lemari:
mayat hidup berkalung azimat
di depan ada cermin menyembunyikan
bayangan tubuh, menyisakan rahasia
tentang segala muasal yang ganjil
berserakan bersama kehancuran
yang telah terlalu lama menetap di ini kampung.

II
suara kecil, pemandangan kecil,
mimpi kecil, kampung kecil
kapan akhir akan bermula!
tubuh membatu
di dalam waktu
hidupkanlah kata-kata
agar sepi yang bermuka-muka
terlepas dari kewajiban—
 

PASIR CAHAYA

  • untuk Tara Febriani Khaerunnisa

pungut aku kala purnama mengancam
dan pertarungan tak menghasilkan
siapa yang menang, siapa yang kalah

setelah itu kau harus kembali meletakkanku
agar aku bisa memberikan cahaya
kepada segala yang ingin melihat

meski dari lubang kecil kerang

serupa kebahagiaan muka pelaut
setelah lama tak pulang ke
rumah yang dihimpit hotel

membuat tegak tubuhmu perlahan menghilang
bintang-bintang kecil terjatuh
meninggalkan cahaya susut

pohon waru, hampir patah silsilah keluarga

akan kau dengar sayup bekas pertengkaran yang memaksaku
menyebar dengan sunyi ke garis pantai—
mimpiku yang terjadi setiap hari

harus kau ceritakan pada anak-anakmu
sebelum kau menjadi abu dan menyatu denganku
menyusuri pulau-pulau baru
 

LUNARIAN

di palung desember
“bulan akan tetap mengendalikanku,” katamu
kau telah menyembunyikan keinginan-keinginanmu
di antara hujan yang ragu-ragu dan terik matahari yang kaku
kau tidak akan melihat ke belakang
seperti rumah yang mengabaikan tanah sempit
dan pohon yang merindukan lengang angin
kau bergegas. komet malam menjemputmu
batas tak lagi menjadi pertanyaanmu yang tak kunjung selesai
berangkatlah, tidak ada masa depan
di mataku. hanya kekosongan berdiam diri
menelusuri napas terakhirmu
sebagai satu-satunya alat balas dendam

Penulis: Gilang Sakti Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

https://tatkala.co/2025/02/22/puisi-puisi-abed-ilyas-rencana-bermain/
https://tatkala.co/2025/02/16/puisi-puisi-willy-fahmy-agiska-alerta/embed/#?secret=Eg2NvE22oi#?secret=HSnmCEK92k
https://tatkala.co/2024/12/29/puisi-puisi-gimien-artekjursi-tanamlah-musim-dalam-jiwamu/embed/#?secret=Pan49Zk1Jx#?secret=HakYvVb9wx
https://tatkala.co/2024/11/23/puisi-puisi-iga-darma-putra-dari-paris-kepada-sunyi-kabut-hujan/embed/#?secret=2dYzZSRlfh#?secret=cqgPSe8hYZ

Tag: Puisi
Avatar

Gilang Sakti Ramadhan

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More